Intergovernmental Oceanographic, Sejumlah Negara Sepakat Mendorong Literasi Laut

Literasi laut. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Sejumlah negara bersepakat untuk mengangkat riset pengetahun dan budaya lokal laut dalam Pertemuan 14th Intergovernmental Session of the IOC Sub-Commission for the Western Pacific (WESTPAC-XIV) yang berlangsung di Jakarta, Rabu (5/4).

Peneliti ahli utama Pusat Riset Oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan delegasi pertemuan, Augy Syahailatua mengatakan, Indonesia mengusulkan dua program baru, yaitu small island reseach and development (SIRaD) atau pengelolaan pulau-pulau kecil dan riset terkait isu pengetahuan lokal (local knowledge dan knowledge culture).

Menurut Augy selama ini Intergovernmental Oceanographic Commission (IOC) Sub-Commission for the Western Pacific (WESTPAC) memang lebih fokus ke coastal management atau oseanografi. Tidak terlalu banyak riset manajemen untuk pulau-pulau kecil.

Padahal, negara seperti Filipina, Vietnam, Malaysia, Indonesia, dan Jepang terdiri dari pulau-pulau kecil.

“Jadi kita meminta dukungan kerja sama mereka untuk bisa saling berbagi sukses, bagaimana mereka me-manage pulau-pulau kecil, terlebih dengan adanya isu perubahan iklim saat ini,” katanya.

Terkait dengan isu local knowledge dan local culture, kata Augy, Malaysia, Filipina, dan Vietnam juga sepakat untuk mengangkat riset tersebut.

“Karena itu, salah satu SGO statement yang sudah disepakati yaitu mendorong adanya ocean literacy,” ujarnya.

Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN Mego Pinandito, mengatakan, sebagai negara maritim terbesar di dunia, sudah seharusnya Indonesia menjadi yang terdepan dalam riset bidang kelautan.

Mego mengatakan dua pertiga wilayah Indonesia adalah laut. Kita ingin Indonesia menjadi leader, apalagi Indonesia sekarang menjadi negara anggota G20, maka harus memainkan peran yang lebih besar dalam riset dan inovasi di bidang kelautan.

Terlebih lagi, menurut Mego, Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Pertemuan ini menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk berkolaborasi dengan negara-negara Pasifik Barat.

Mego mengatakan saat ini menjadi salah satu prioritas dalam mendukung program kelautan secara nasional untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

“Mengapa kita mengupayakan bisa menjadi leader? Karena sumber dayanya ada di Indonesia, baik laut dangkal, laut dalam, dan sebagainya, juga biodiversitas kita,” ujarnya.

Berbagai program riset nasional sudah dilakukan, di antaranya riset keanekaragaman hayati laut yang menjadi sumber pangan dan bahan baku obat.
Juga riset terkait tambang dan gunung api di dasar laut. Termasuk riset terkait kebencanaan seperti mempelajari sumber gempa dari dasar laut.

Pertemuan ini menghasilkan Senior Governmental Official (SGO) Jakarta Statement yang memuat pernyataan bersama dari SGO dalam UN Decade of Ocean Science untuk pembangunan berkelanjutan 2021-2030.

Berbagai skema kerja sama riset dapat dilanjutkan. Salah satu program skema yang ditawarkan BRIN adalah degree by research.

“Kita sudah ada program Regional Training and Research Center on Marine Biodiversity and Ecosystem Health (RTRC Mar-BEST), tapi sifatnya hanya pelatihan satu dua minggu atau satu bulan,” katanya.

“Dengan program degree ini, akan ada value added lagi, tidak sekedar periset mendapat pengetahuan. Peningkatan kapasitas penelitian juga tertuang dalam SGO Statement ini.”

Head of UNESCO/IOC Regional Secretariat for WESTPAC, Wenxi Zhu, mengatakan pertemuan IOC WESTPAC secara kontinu membahas kerja sama regional dalam ilmu kelautan untuk menawarkan solusi mengatasi permasalahan ekonomi dan lingkungan, termasuk permasalahan yang ditinggalkan pandemi Covid-19.

Wenxi menjelaskan aktivitas-aktivitas kunci WESTPAC medio 2021 hingga 2022 berhasil dilaksanakan dalam meningkatkan sumber daya riset kelautan yang dibutuhkan negara-negara anggota.

“Pertemuan tahun ini spesial, karena ini pertama kalinya in-person meeting setelah isolasi (akibat pandemi),” katanya.

“Kita memahami pentingnya interaksi secara kolektif untuk mengembangkan kerja sama, sumber daya pengetahuan, dan pada akhirnya solusi untuk keberlangsungan sumber daya maritim dan kelautan.”

Wenxi mengatakan pandemi menimbulkan timbunan sampah lebih dari sebelumnya, juga banyak negara mengalami penurunan di sektor ekonomi. Kaitannya pemulihan melalui ekonomi biru, potensi kelautan masih banyak yang belum dimanfaatkan.

Hanya pemanfaatan sumber daya laut dan pesisir yang berkelanjutan, yang dapat memberikan manfaat ekonomi jangka panjang.

Selain penting karena para delegasi bisa kembali berinteraksi secara kolektif, pertemuan ini juga menyoroti hal lainnya.

In-person meeting adalah highlight pertama. Kedua, para delegasi dari berbagai institusi, komunitas riset, dan pemangku kepentingan lainnya hadir untuk membahas apa yang telah dicapai dan apa yang bisa digali lebih banyak lagi. Ketiga, untuk mendorong inisiatif dan pandangan yang akan diajukan oleh negara anggota. Kami sangat optimis atas hasil akhir pertemuan nanti,” ujar Wenxi.

Co-chairperson pada pertemuan sebelumnya, Kentaro Ando, menjelaskan bahwa lautan terlalu luas untuk dikelola oleh satu negara, sehingga kerja sama internasional di bidang kelautan menjadi esensial.

Menurut Kentaro aktivitas WESTPAC meningkat tajam dari tahun ke tahun dan membuka interaksi dengan regional lainnya. Hal ini menjadikan WESTPAC menjadi region yang paling aktif dan menarik, dan diharapkan dapat berkolaborasi dengan regional lainnya.

Exit mobile version