Misalnya, lebih dari 700 lembaga pendidikan tinggi di lebih dari 100 negara merupakan bagian dari Nature Positive Universities, jaringan global yang didedikasikan untuk menghentikan dan membalikkan hilangnya keanekaragaman hayati melalui upaya seperti restorasi habitat, pemantauan keanekaragaman hayati, dan proyek infrastruktur berkelanjutan.
Tindakan ini meningkatkan lingkungan kota dan lanskap lokal, berkontribusi pada pengembangan masa depan yang positif terhadap alam.
4. Mahasiswa Sebagai Agen Perubahan
Mahasiswa di seluruh dunia sedang mengeksplorasi, mendokumentasikan, dan mengkomunikasikan tantangan lingkungan. Melalui jurnalisme, bercerita (storytelling), dan platform digital, kaum muda berbagi solusi dan menginspirasi orang lain untuk bertindak.
Program-program seperti Young Reporters for the Environment (YRE), yang bermitra erat dengan Dekade Restorasi Ekosistem PBB, telah melatih dan membimbing ribuan pemimpin lingkungan masa depan selama lebih dari 30 tahun.
Banyak reporter dan advokat lingkungan saat ini memulai perjalanan mereka melalui YRE, di mana mereka mengembangkan keterampilan untuk menyelidiki isu-isu, melaporkan tantangan lokal, dan mendukung inisiatif yang berfokus pada solusi.
5. Menghadapi Perubahan Iklim
Menurut analisis terbaru UNICEF (Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa), setidaknya 242 juta siswa di 85 negara mengalami gangguan pendidikan akibat krisis iklim pada tahun 2024, termasuk gelombang panas, badai, banjir, dan kekeringan. Dalam beberapa konteks, gangguan berulang telah mengancam hak anak-anak atas pendidikan.




