Darilaut – Spesies gurita, salah satu hewan laut dengan tentakel, menjadi tumpuan ekonomi keluarga nelayan di Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk timur, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.
Perairan Uwedikan terletak di wilayah yang agak menjorok ke darat, yang secara langsung dan tidak langsung bagian dari lintasan Arus Lintas Indonesia (Arlindo) atau Indonesian Throughflow (ITF).
Arlindo salah satu arus laut terbesar di dunia yang berperan penting dalam sistem sirkulasi laut global dan iklim kawasan Indo-Pasifik ini dari Samudra Pasifik dan masuk melalui timur laut Halmahera ke Laut Maluku.
Arlindo berperan penting dalam perkembangan iklim dunia yang membawa pola aliran massa air dari Samudera Pasifik yang didorong lewat Indonesia ke Samudera Hindia.
Perairan Uwedikan berada dalam lintasan tersebut. Di bulan Agustus tahun ini, nelayan penangkap gurita di Uwedikan menghadapi cobaan berat. Saat akan memanen gurita melalui sistem buka dan tutup, nelayan setempat belum dapat menangkap hasil perikanan gurita.
Sejak tahun 2021, nelayan penangkap gurita di Uwedikan telah menerapkan praktik pengelolaan perikanan gurita dengan metode buka tutup sementara area tangkap, yang mirip dengan sistem sasi.
Dengan buka-tutup area, hasil tangkapan di perairan ini bisa mencapai lebih dari 2 kg untuk satu gurita saja. Menghilangnya gurita di perairan tersebut diduga antara lain lantaran kekeruhan air akibat hujan deras dan adanya penangkapan gurita di luar jadwal yang disepakati.




