Jarang Terlihat di Teluk Tomini Paus Sperma Kerdil Mati Terdampar di Gorontalo

Seekor Paus Sperma Kerdil (Kogia sima) ditemukan terdampar pada Kamis 25 April 2024 dalam keadaan mati di perairan Botubarani, Gorontalo, Teluk Tomini. Mamalia laut ini dalam kondisi kode 3 atau mati dalam keadaan membusuk. FOTO-FOTO: KOLEKSI WAHAB MATOKA/BOTUBARANI

Darilaut – Seekor paus sperma kerdil (Kogia sima) ditemukan dalam keadaan mati terapung dan terdampar di perairan Botubarani Gorontalo. Mamalia laut ini termasuk salah satu spesies yang jarang terlihat di Teluk Tomini.

Temuan paus tersebut menggegerkan warga Desa Botubarani, Kabupaten Bone Bolango. Spesies paus sperma kerdil ditemukan oleh nelayan setempat pada Kamis 25 April, sekitar pukul 06.35 Wita dengan kondisi sudah dalam keadaan mati.

Menurut Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Minat Khusus Hiu Paus Desa Botubarani, Wahab Matoka, penanganan pertama yang dilakukan pada Paus Sperma Kerdil ini dengan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu untuk mengetahui penyebab matinya paus tersebut.

“Itu kan masih diperiksa oleh DKP (Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Gorontalo), kemudian mereka lihat keadaan dari paus itu ada bekas tombak di kepalanya,” kata Wahab kepada Darilaut.id, Minggu (5/5).

”Makanya mengenai kematian dari hiu paus itu kami juga tidak mengerti dan tidak paham kenapa pausnya ini sudah terapung-apung di Teluk Tomini.”

Wahab mengatakan paus terdampar di kawasan Teluk Tomini khususnya di Desa Botubrani sejauh ini kasus pertama. Apalagi di tahun 2023 belum ada laporan perihal kasus yang sama, baru di tahun 2024 ini.

Kepala Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Permana Yudiarso, mengatakan petugas lalu mengidentifikasi paus sudah masuk kode 3 atau mati dalam keadaan membusuk.

“Saat ditemukan, paus tersebut sudah dalam kondisi mati dan telah mengalami pembusukan tindak lanjut yang ditandai dengan kulit mengelupas, serta bagian tubuh (perut dan kepala) yang mulai hancur.  Ditemukan juga luka di kepala bagian atas yang mengindikasikan penyebabnya yakni luka tombak,” kata Permana, mengutip siaran pers KKP.

Hasil identifikasi dan pengukuran morfometrik yang dilakukan oleh tim respon cepat di lapangan,  paus berjenis kelamin betina itu, dengan ukuran panjang tubuh sekitar 2,2 meter dan lingkar dada sekitar 1,5 meter.

Setelah pengukuran morfometrik dilakukan, tim respon cepat melanjutkan ke tahap penanganan dengan mempertimbangkan kondisi bangkai dan lokasi galian dari air pasang tertinggi.

Atas pertimbangan ini, tim respon cepat bersama PSDKP Bitung Satwas Gorontalo, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Gorontalo, Kelompok Masyarakat Penggerak Konservasi (KOMPAK) Orca, dan warga setempat melakukan penanganan dengan cara mengubur bangkai paus tersebut pada kedalaman galian sekitar 2 meter.

Paus sperma kerdil adalah salah satu jenis mamalia laut yang dilindungi penuh oleh negara berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, serta Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 79 Tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional Konservasi Mamalia Laut.

Peneliti kelautan lebih khusus mamalia laut paus Orca, Verrianto Madjowa, mengatakan untuk mengetahui penyebab kematian paus sperma kerdil tersebut perlu dilakukan melalui nekropsi atau autopsi.

Dengan melakukan nekropsi dapat diketahui secara detail penyebab kematian, kata Verri.

Bukan hanya melihat secara fisik dan pengukuran morfometrik atau pengukuran perbandingan badan atau tubuh.

Apalagi, menurut Verri, paus sperma kerdil termasuk mamalia laut yang jarang dilaporkan keberadaannya di Teluk Tomini.

Secara umum, penyebab kematian paus sperma kerdil karena alat tangkap perikanan seperti  terjerat jaring insang. Penyebab kematian lainnya karena tabrakan kapal.

”Ada juga kematian karena memakan dan menelan sampah laut. Sampah plastik dikira sebagai mangsa dan ditelan,” ujarnya.

Kondisi ini dapat menyebabkan kematian. Dalam beberapa kasus, paus sperma kerdil yang terdampar di dalam perutnya ditemukan plastik dan sampah lainnya yang menghalangi perut. (Novita J. Kiraman)

Exit mobile version