Hasilnya menunjukkan bahwa daerah penelitian didominasi oleh satuan batupasir berlapis dan batupasir massif. Dua jenis utama yaitu Lithic Arenite dan Feldspathic Wacke.
Batupasir tersebut tersusun oleh mineral kuarsa, feldspar, dan fragmen batuan vulkanik, dengan karakter porositas primer dan sekunder yang menunjukkan kemampuan menyimpan dan melewatkan air.
Analisis geokimia juga mengindikasikan bahwa batupasir ini terbentuk pada lingkungan tektonik busur kepulauan (oceanic island arc) yang berkaitan dengan aktivitas subduksi di kawasan Teluk Tomini.
Temuan ini membuktikan bahwa batupasir Teluk Tomini berpotensi dikembangkan sebagai “reservoir air tanah” dalam untuk menopang kebutuhan air bersih di masa depan, “khususnya di wilayah Indonesia bagian timur,” ujar Aang.
Penelitian ini sejalan dengan kebijakan nasional dalam mendukung ketahanan dan kemandirian air, sebagaimana tertuang dalam RPJMN 2025–2029.
Sebagai luaran, hasil penelitian ini akan dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus, sekaligus memperkuat peran UNG dalam pengembangan riset berbasis potensi lokal.
Penelitian lanjutan direncanakan pada tahun 2026 dengan fokus pada analisis porositas dan permeabilitas batupasir untuk pemodelan reservoir air tanah secara lebih detail.




