Darilaut – Prevalensi balita sangat pendek dan pendek (stunting) di Kota Gorontalo mengalami tren penurunan.
Sekretaris Daerah Kota Gorontalo, Ismail Madjid, mengatakan, persentase stunting di Kota Gorontalo bisa turun hingga dibawah 14 persen.
Pada 2021, stunting 26,5 persen dan turun menjadi 19,1 persen tahun 2022.
“Alhamdulillah, stunting di Kota Gorontalo ini tren penurunannya luar biasa bagus, karena dari angka 26,5 persen di tahun 2021, turun menjadi 19,1 persen di tahun 2022,” kata Ismail.
”Insya Allah kalau dilihat dari tren itu bisa mencapai dengan target yang ditentukan oleh pemerintah pusat.”
Dalam rapat koordinasi tim percepatan penurunan stunting yang dirangkaikan dengan rembuk stunting tingkat kota Gorontalo, Kamis (14/3), Ismail mengatakan, stunting bukan hanya persoalan tinggi badan, tetapi berdampak pada kemampuan berpikir anak.
Kegiatan Rakor tim percepatan penurunan stunting tersebut diselenggarakan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A).
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana – P3A Kota Gorontalo, Eladona Oktamina Sidiki, mengatakan, untuk mencegah stunting, gizi dan zat besi pada ibu hamil harus tercukupi.
Untuk memenuhinya, kata Eladona, pihaknya terus berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Kota Gorontalo terutama Puskeskmas, bahkan PKK di semua wilayah.
Menurut Eladona, ada banyak sumber protein hewani yang harganya terjangkau dan bisa didapatkan di sekitar kita, karena yang paling penting menurunkan stunting dengan menambahkan protein hewani seperti telur, ikan, ayam, daging dan susu.
Sebagai catatan, menurut WHO (2015), stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar.
Selanjutnya, menurut WHO (2020) stunting adalah pendek atau sangat pendek berdasarkan panjang / tinggi badan menurut usia yang kurang dari -2 standar deviasi (SD) pada kurva pertumbuhan WHO yang terjadi dikarenakan kondisi irreversibel akibat asupan nutrisi yang tidak adekuat dan/atau infeksi berulang / kronis yang terjadi dalam 1000 HPK.
