Kajian BMKG-UGM, Penyebaran Covid-19 Karena Interaksi Sosial

Pembaruan Terakhir: 4 April 2020, 15:40 WIB (https://www.covid19.go.id/situasi-virus-corona/)

Darilaut – Kajian Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan meningkatnya kasus penyebaran virus corona, Covid-19, di Indonesia karena pengaruh pergerakan atau mobilitas manusia dan interaksi sosial.

Tim BMKG yang melakukan kajian terdiri dari 11 Doktor di Bidang Meteorologi, Klimatologi dan Matematika, didukung Guru Besar dan Doktor di bidang Mikrobiologi dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan, tim melakukan kajian berdasarkan analisis statistik, pemodelan matematis dan studi literatur tentang Pengaruh Cuaca dan Iklim dalam Penyebaran Covid-19.

Hasil kajian ini telah disampaikan kepada Presiden dan beberapa Kementerian terkait pada 26 Maret 2020 lalu. Kajian ini menunjukkan adanya indikasi pengaruh cuaca dan iklim dalam mendukung penyebaran wabah Covid-19, sebagaimana yang disampaikan dalam penelitian Araujo dan Naimi (2020), Chen et. al. (2020), Luo et. al. (2020), Poirier et. al (2020), Sajadi et.al (2020), Tyrrell et. al (2020), dan Wang et. al. (2020).

Hasil analisis Sajadi et. al. (2020) serta Araujo dan Naimi (2020) menunjukkan sebaran kasus Covid-19 pada saat outbreak gelombang pertama, berada pada zona iklim yang sama, yaitu pada posisi lintang tinggi wilayah subtropis dan temparate. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan sementara bahwa negara-negara dengan lintang tinggi cenderung mempunyai kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara tropis.

Selanjutnya, penelitian Chen et. al. (2020) dan Sajadi et. al. (2020), kondisi udara ideal untuk virus corona adalah temperatur sekitar 8 – 10 derajat Celcius dan kelembapan 60-90 persen. Artinya, dalam lingkungan terbuka yang memiliki suhu dan kelembaban yang tinggi merupakan kondisi yang kurang ideal untuk penyebaran kasus Covid-19.

Para peneliti menyimpulkan bahwa kombinasi dari temperatur, kelembapan relatif cukup memiliki pengaruh dalam penyebaran transmisi Covid-19. Penelitian oleh Bannister-Tyrrell et. al. (2020) juga menemukan adanya korelasi negatif antara temperatur (di atas 1 derajat Celcius) dengan jumlah dugaan kasus Covid-19 per hari.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Covid-19 mempunyai penyebaran yang optimum pada suhu yang sangat rendah (1 – 9 derajat Celcius). Artinya, semakin tinggi temperatur, maka kemungkinan adanya kasus Covid-19 harian akan semakin rendah. Lebih lanjut Wang et. al. (2020) menjelaskan bahwa serupa dengan virus influenza, virus Corona ini cenderung lebih stabil dalam lingkungan suhu udara dingin dan kering.

Kondisi udara dingin dan kering tersebut dapat melemahkan “host immunity” seseorang, dan mengakibatkan orang tersebut lebih rentan terhadap virus sebagaimana yang dituliskan dalam studi Wang et al. (2020) tersebut.

Demikian pula Araujo dan Naimi (2020) memprediksi dengan model matematis yang memasukkan kondisi demografi manusia dan mobilitasnya. Peneliti menyimpulkan iklim tropis dapat membantu menghambat penyebaran virus tersebut.

Dijelaskan bahwa terhambatnya penyebaran virus dikarenakan kondisi iklim tropis dapat membuat virus lebih cepat menjadi tidak stabil. Sehingga penularan virus Corona dari orang ke orang melalui lingkungan iklim tropis cenderung terhambat. Akhirnya, kapasitas peningkatan kasus terinfeksi untuk menjadi pandemik juga akan terhambat.

Hasil kajian Tim gabungan BMKG-UGM menjelaskan bahwa analisis statistik dan hasil pemodelan matematis di beberapa penelitian di atas mengindikasikan bahwa cuaca dan iklim merupakan faktor pendukung untuk kasus wabah ini berkembang pada outbreak yang pertama di negara atau wilayah dengan lintang tinggi.

Tapi bukan faktor penentu jumlah kasus, terutama setelah outbreak gelombang yang kedua. Meningkatnya kasus pada gelombang kedua saat ini di Indonesia, tampaknya lebih kuat dipengaruhi oleh pengaruh pergerakan atau mobilitas manusia dan interaksi sosial.

Kondisi cuaca atau iklim serta kondisi geografi kepulauan di Indonesia, sebenarnya relatif lebih rendah risikonya untuk berkembangnya wabah Covid-19. Namun fakta menunjukkan terjadinya lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia sejak awal bulan Maret 2020.

Indonesia terletak di sekitar garis Khatulistiwa dengan suhu rata-rata berkisar antara 27- 30 derajat Celcius dan kelembapan udara berkisar antara 70 – 95 persen. Untuk kondisi lingkungan seperti ini, hasil kajian literatur cenderung tidak ideal untuk outbreak Covid-19.

Namun demikian, fakta menunjukkan bahwa kasus gelombang ke-2 Covid-19 telah menyebar di Indonesia sejak awal Maret 2020 yang lalu. Hal tersebut diduga akibat faktor mobilitas manusia dan interaksi sosial yang lebih kuat berpengaruh, daripada faktor cuaca dalam penyebaran wabah Covid-19 di Indonesia.

Laporan tim BMKG-UGM merekomendasikan berdasarkan fakta dan kajian terhadap beberapa penelitian sebelumnya, apabila mobilitas penduduk dan interaksi sosial ini benar-benar dapat dibatasi, disertai dengan intervensi kesehatan masyarakat (Luo et. al. 2020 dan Poirier et. al., 2020), maka faktor suhu dan kelembapan udara dapat menjadi faktor pendukung dalam memitigasi atau mengurangi risiko penyebaran wabah tersebut.

Selain itu, perlu diwaspadai pula bahwa memasuki bulan April sampai Mei, sebagian besar wilayah Indonesia memasuki pergantian musim, yang sering ditandai dengan merebaknya wabah Demam Berdarah.

Jadi, secara umum hasil kajian tim BMKG dan UGM merekomendasikan kepada masyarakat untuk terus menjaga kesehatan dan meningkatkan imunitas tubuh. Dengan memanfaatkan kondisi cuaca untuk beraktivitas atau berolahraga pada jam yang tepat.

Terutama di bulan April hingga puncak musim kemarau di bulan Agustus nanti, yang diprediksi akan mencapai suhu rata – rata berkisar antara 28 – 32 derajat Celcius dan kelembapan udara berkisar antara 60 sampai 80 persen.

Tentunya dengan lebih ketat menerapkan “Physical Distancing” dan pembatasan mobilitas orang ataupun dengan “Tinggal di Rumah”, disertai intervensi kesehatan masyarakat, sebagai upaya untuk memitigasi atau mengurangi penyebaran wabah Covid-19 secara lebih efektif. Karena cuaca yang sebenarnya menguntungkan ini, tidak akan berarti optimal tanpa penerapan seluruh upaya tersebut dengan lebih maksimal dan efektif.*

Exit mobile version