Kaleidoskop 2025: Badai Siklon Senyar yang Mematikan di Sumatra

Peta kejadian curah hujan 5 hari yang terkait dengan badai siklon Senyar di atas Selat Malaka. Lokasi banjir dan tanah longsor ditunjukkan dengan lingkaran kuning dan merah. Garis biru menunjukkan perkiraan lokasi terjadinya banjir. SUMBER GAMBAR/DATA: MSWEP/Worldweatherattribution.org

Darilaut – Sebanyak 1.016 orang korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan longsor  di tiga provinsi, Aceh, Sumatra Utara (Sumut) dan Sumatra Barat (Sumbar), sedangkan korban hilang 212 orang.

Banjir dan longsor terjadi karena badai siklon (cyclonic storm) atau siklon tropis Senyar  mendarat dan menghantam Sumatra bagian utara pada 26 November 2025.

Sistem ini berkembang di Selat Malaka sebagai bibit siklon tropis. Setelah mendarat di dekat Kota Langsa, Aceh, badai siklon Senyar berbelok ke selatan dan Tenggara melintasi daratan Sumatra Utara.

Badai siklon Senyar meninggalkan jejak kehancuran di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh.

Selama melintasi daratan Senyar mempertahankan kekuatan dan kembali melintasi Selat Malaka. Sistem ini bergerak ke timur dan timur-timur laut menuju Malaysia.

Saat pendaratan badai Senyar telah melemah menjadi depresi tropis. Pelemahan Senyar saat bergerak di Selat Malaka hingga mendekati pendaratan untuk kedua kalinya di Malaysia.

Siklon tropis Senyar yang telah melemah, kembali meregenerasi di dekat Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau, Sabtu 29 November. Sistem ini mengarah ke timur laut dengan kecepatan 10 km per jam (6 knot).

Penilaian Awal yang Keliru

Penilaian yang keliru di awal kejadian telah “menutup” sementara akses bagi pihak lainnya, seperti dari negara lain untuk membantu lantaran seolah-olah mampu menangani sendiri dampak kejadian. Ini pula yang memberi kesan pembiaran.

Ada kecenderungan pemerintah pusat mengecilkan peristiwa siklon tropis. Lambannya penanganan dan penanggulangan pascakejadian terjadi di semua kabupaten dan kota yang terdampak langsung menunjukkan indikasi pembiaran.

Terutama warga terdampak yang berada di pinggiran dan yang mengalami kerusakan pada sejumlah akses jalan dan jembatan.

Peristiwa cuaca ekstrem, bencana hidrometeorologi, bencana ekologi masih akan terjadi karena maraknya kegairahan kegiatan ekstraktif di berbagai pulau yang merusak dan rapuhnya kebijakan pengelolaan lingkungan yang baik.

Lambannya sikap pemerintah pusat dalam mengambil kebijakan yang tepat waktu dan tepat secara geografi di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat dapat menjadi catatan penting bagi daerah lain apabila mengalami dan menghadapi kondisi dan peristiwa cuaca dan iklim ekstrem di kemudian hari.

Penilaian Ilmuwan Berbagai Negara

Sejumlah ilmuwan dari berbagai negara telah melakukan penilaian pengaruh perubahan iklim terhadap siklon tropis. Peristiwa Badai Siklon Senyar di Selat Malaka mengakibatkan kehancuran di tiga provinsi

Selain penilaian di Selat Malaka, para ilmuwan juga menilai Badai Siklon Ditwah di Sri Lanka. Kolaborasi ahli berasal dari Sri Lanka, Filipina, Malaysia, Inggris Raya, Amerika Serikat, Swedia, Irlandia, dan Belanda.

Tim menemukan curah hujan ekstrem yang terkait dengan Badai Siklon Senyar di Selat Malaka kira-kira setara dengan peristiwa 1 banding 70 tahun dalam iklim saat ini.

Hasil penilaian ini telah dipublikasikan di situs web Worldweatherattribution.org, 10 Desember 2025.

Pengaruh perubahan iklim terhadap siklon tropis cukup kompleks. Namun, meskipun dilanda siklon tropis, dampak utamanya berasal dari curah hujan lebat yang menyertainya, bukan dari angin kencang.

Suhu permukaan laut dan dua mode variabilitas alami yang besar – La Nina yang sedang berlangsung dan fase negatif Indian Ocean Dipole (IOD) saat ini berpotensi memengaruhi curah hujan lebat tersebut.

Para ilmuwan menilai sejauh mana perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia mengubah kemungkinan dan intensitas curah hujan lebat di wilayah tersebut.

Untuk menilai peran perubahan iklim dalam curah hujan lebat, “kami mempelajari periode curah hujan 5 hari terberat di dua wilayah; Sri Lanka dan wilayah yang mencakup setengah dari Sumatra dan sebagian besar semenanjung Malaysia,” tulis para ilmuwan di situs web Worldweatherattribution.org.

Selain itu, penilaian juga dilakukan dalam konteks La Nina dan IOD. Untuk menempatkan ini dalam konteks, dilakukan analisis suhu permukaan laut di sekitarnya.

Temuan utama khususnya di wilayah Selat Malaka, daratan dibentuk oleh kepulauan vulkanik yang luas, dataran yang lebar, dan delta. Dengan banyak pulau yang memiliki drainase alami yang terbatas, dan lembah yang dalam, curah hujan yang deras dengan mudah memicu banjir bandang dan tanah longsor.

Selain perubahan iklim, curah hujan ekstrem di wilayah ini diketahui dipengaruhi oleh ENSO dan Indian Ocean Dipole (IOD). Oleh karena itu, tim memeriksa apakah pola variabilitas iklim yang berulang ini berperan.

Seperti dikatakan Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), Celeste Saulo, tidak ada satu lembaga atau negara pun yang dapat mengatasi tantangan topan dan iklim ekstrem sendirian.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyampaikan kesedihan yang mendalam atas hilangnya nyawa yang tragis di seluruh kawasan akibat siklon tropis Senyar. PBB menyatakan solidaritasnya dengan semua pihak yang terdampak dan siap mendukung semua upaya bantuan.

Exit mobile version