Darilaut – Guru Besar bidang Sosiolinguistik Ortografi Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Prof. Dr. Suleman Bouti, mengatakan, setiap sistem tulisan selalu membawa ideologi tertentu tentang siapa yang berhak menentukan bentuk bahasa yang dianggap benar dan siapa yang tersisih dari proses tersebut.
Bagi masyarakat tutur minoritas yang hidup kuat dalam tradisi lisan, kehadiran ortografi sering kali berada di antara dua kutub: sebagai jembatan pelestarian bahasa, sekaligus potensi alienasi linguistik, kata Prof. Suleman.
Dalam kasus bahasa Gorontalo yang menjadi salah satu fokus utama kajian, Prof. Suleman menyoroti keberadaan dua sistem ortografi yang hidup berdampingan, yakni Arab-Pegon sebagai warisan tradisi keagamaan dan Latin sebagai simbol modernitas serta otoritas negara.
Kedua sistem ini, menurut Prof. Suleman, tidak sepenuhnya selaras dengan karakter fonetik dan morfologis bahasa Gorontalo, sehingga melahirkan ruang negosiasi berkelanjutan antara tradisi, kebijakan, dan teknologi.
Prof. Suleman menjelaskan bahwa ortografi tidak dapat dipahami semata sebagai sistem teknis penulisan bahasa, melainkan sebagai arena sosial yang sarat dengan relasi kuasa, identitas, dan legitimasi.
Penegasan tersebut disampaikan dalam orasi ilmiah berjudul “Ortografi dalam Masyarakat Tutur Minoritas” pada Sidang Terbuka Senat Orasi Ilmiah dan Pengukuhan Guru Besar Tetap Universitas Negeri Gorontalo (UNG), yang berlangsung di auditorium UNG, pada Selasa (3/2).




