Dalam konteks Gorontalo, kesulitan menuliskan tanda glotal dan vokal panjang membuat penutur menyesuaikan diri dengan ortografi dominan, yang berpotensi mengikis variasi lokal, kata Prof. Suleman.
Menutup orasinya, Prof. Suleman menegaskan bahwa tugas ilmuwan bahasa bukanlah sekadar menentukan mana ortografi yang benar, melainkan memahami bagaimana sistem tulisan menjadi ruang negosiasi antara masa lalu dan masa depan, antara keaslian dan adaptasi.
Ortografi, hanya akan hidup sejauh diterima, digunakan, dan dicintai oleh komunitas penuturnya, kata Prof. Suleman.




