Darilaut – Terdapat laporan ilmiah mengenai kemungkinan penularan antarmanusia. Namun, karakteristik penyebarannya sangat berbeda dengan penyakit yang mudah menular seperti influenza, campak, maupun COVID-19.
Salah satu jenis hantavirus yang banyak dibahas adalah Andes virus. Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arief Mulyono, mengatakan, masyarakat perlu memahami informasi mengenai Andes virus secara proporsional.
“Penularan antarmanusia pada Andes virus sangat jarang terjadi dan umumnya hanya berlangsung melalui kontak erat dan intensif dalam waktu lama. Penyakit ini tidak menyebar cepat melalui udara di lingkungan masyarakat,” ujar Arief seperti dikutip dari Brin.go.id.
Arief meluruskan anggapan bahwa temuan kasus pada pasangan intim tidak otomatis menjadikan Andes virus sebagai penyakit menular seksual. Penularan lebih mungkin terjadi akibat kedekatan fisik yang sangat intens, termasuk paparan air liur atau sekret pernapasan pada fase akut penyakit.
Kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terpapar hantavirus antara lain pekerja pertanian, petugas kebersihan, pekerja kehutanan, penghuni wilayah pedesaan, serta masyarakat yang membersihkan gudang atau bangunan tertutup yang lama tidak digunakan.
Risiko penularan meningkat pada ruangan dengan ventilasi buruk yang terkontaminasi kotoran tikus.
Untuk mencegah infeksi hantavirus, masyarakat disarankan menjaga kebersihan lingkungan, menutup akses masuk tikus ke dalam rumah, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, serta menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi.
Area tersebut sebaiknya disemprot disinfektan terlebih dahulu dan tidak langsung disapu agar partikel debu tidak beterbangan di udara.
Penguatan surveilans, pengendalian tikus, edukasi masyarakat, serta pendekatan One Health, menurut Arief, menjadi langkah penting dalam mencegah munculnya penyakit zoonosis seperti hantavirus.
Yang terpenting, masyarakat tetap tenang, waspada, dan memahami langkah pencegahan yang benar,” ujarnya.
Penelitian mengenai hantavirus di Indonesia sebenarnya telah dilakukan sejak 1991 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) Kementerian Kesehatan, khususnya di wilayah Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur.
Penelitian tersebut menjadi bagian dari upaya pemantauan penyakit zoonosis dan identifikasi rodensia yang berpotensi menjadi reservoir virus di Indonesia.
Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto menjelaskan bahwa hantavirus merupakan kelompok virus zoonotik yang ditularkan melalui rodensia atau hewan pengerat, terutama tikus liar.
Ristiyanto menekankan bahwa hingga saat ini Indonesia belum pernah melaporkan kasus Andes virus.
Selain itu, berdasarkan hasil riset vektor dan reservoir penyakit di Indonesia pada periode 2015–2018, Andes virus juga tidak ditemukan pada kelompok tikus domestik, peridomestik, maupun silvatik yang diteliti.
Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat Indonesia memiliki keanekaragaman rodensia yang tinggi, kepadatan penduduk besar, serta kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan populasi tikus.
Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia PBB (WHO) menyerukan para penumpang dan awak kapal yang terkena hantavirus untuk menjalani karantina atau isolasi selama 42 hari.
Pejabat WHO juga menekankan bahwa tidak ada penumpang yang melakukan perjalanan dengan penerbangan komersial dan mendesak negara-negara yang menerima warga negara yang kembali untuk menerapkan langkah-langkah pemantauan yang ketat.
Karantina dimulai 10 Mei, baik di rumah atau di fasilitas khusus, yang mencerminkan masa inkubasi virus yang panjang dan kemungkinan gejala yang tertunda.
Melansir UN News, para penumpang dan awak kapal telah turun dari kapal pesiar MV Hondius yang terkena hantavirus di Tenerife dan banyak yang telah kembali ke negara asal mereka.
