Darilaut – Kebakaran hutan dan lahan serta pembakaran biomassa melepaskan berbagai macam polutan, termasuk partikulat halus, nitrogen oksida, serta banyak senyawa organik yang mudah menguap (VOC) dan gas rumah kaca.
Meskipun emisi global akibat pembakaran biomassa telah menurun dalam beberapa dekade terakhir, paparan global terhadap asap kebakaran hutan justru meningkat akibat kebakaran yang lebih ekstrem di dekat wilayah berpenduduk.
Setelah dilepaskan ke atmosfer, polutan ini dapat terbawa jauh dari lokasi kebakaran, mengubah situasi darurat lokal menjadi episode kualitas udara berskala regional atau benua. Reaksi kimia di dalam gumpalan asap juga dapat menghasilkan polutan sekunder—termasuk ozon, sebagaimana dibahas pada bagian sebelumnya—yang dapat memberikan dampak tambahan terhadap kualitas udara.
Sistem Asimilasi Kebakaran Global CAMS (GFAS) menggunakan data pengamatan satelit mengenai daya radiatif kebakaran (fire radiative power) untuk memperkirakan emisi pembakaran biomassa di seluruh dunia secara per jam.
Estimasi emisi ini menjadi masukan bagi prakiraan CAMS, yang menunjukkan bagaimana asap terbawa dan mengalami perubahan. Pada bulan Juli 2026, CAMS meluncurkan aplikasi baru bernama Fire Emissions Watch, yang memudahkan akses terhadap informasi utama mengenai emisi kebakaran dan gumpalan asap melalui grafik serta peta komprehensif untuk keperluan perbandingan antarwilayah dan tahun.




