Teripang ditemukan di 37 mikroplot, sementara 33 mikroplot hanya berisi lamun; tidak ditemukan mikroplot yang hanya berisi holothuroid.
Di antara mikroplot yang ditumbuhi lamun, distribusi kepadatan tunas lamun tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antara lokasi yang hanya berisi lamun dan lokasi yang berisi lamun serta holothuroid (Mann–Whitney U = 664, p = 0,533; ukuran efek rank-biserial = 0,088).

Jumlah total pengamatan holothuroid paling tinggi tercatat di stasiun 1, sedangkan kepadatan tunas lamun, kekayaan jenis lamun, dan kekayaan jenis teripang paling tinggi tercatat di stasiun 3.
Frekuensi kelas substrat yang diamati di lapangan menunjukkan variasi deskriptif antarstasiun. Analisis korelasi Spearman dan PCA terhadap sembilan kuadrat merangkum gradien biologis, lingkungan, dan kelas substrat; PC1 dan PC2 masing-masing menyumbang 35,13% dan 20,50% dari variasi yang ada (dengan akumulasi sebesar 55,63%).
Pola-pola ini lebih mendukung interpretasi berupa mosaik habitat berskala mikro daripada interpretasi yang hanya didasarkan pada kepadatan tunas lamun, meskipun penelitian ini belum dapat memisahkan efek kausal dari habitat tersebut.
Pengamatan yang digabungkan pada tingkat stasiun serta data kekayaan jenis menunjukkan pola deskriptif yang tidak sejajar (non-paralel) terhadap kepadatan tajuk lamun, sementara frekuensi kelas substrat yang diamati di lapangan dan analisis ordinasi pada tingkat kuadrat mengindikasikan konteks habitat yang heterogen.



