Hal tersebut memperlihatkan bagaimana orang-orang yang sama dapat mengambil peran berbeda sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Melalui kelompok sasi, mereka terlibat dalam upaya pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan berbasis kearifan lokal, sementara melalui Kelompok Talin, mereka mengembangkan usaha kopra untuk mendukung penghidupan keluarga.
Kedua kegiatan ini memiliki ruang lingkup berbeda, tetapi sama-sama bertumpu pada kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam mengelola potensi yang dimiliki.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat Daya, Absalom Solossa, mengatakan upaya ini sejalan dengan semangat ekonomi biru, yaitu mendorong pemanfaatan potensi sumber daya secara berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Didampingi Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Kelompok Talin memperkuat pengelolaan usaha melalui pembagian peran antara ketua, sekretaris, bendahara, dan anggota. Tugas kelompok mencakup produksi, pencatatan, pengelolaan keuangan, penimbangan, hingga pemuatan hasil.
Pendampingan juga mencakup peningkatan kualitas kopra. Anggota kelompok didorong memastikan kelapa dikeringkan melalui pengasapan atau penjemuran hingga benar-benar kering agar lebih tahan disimpan dan memiliki kualitas jual yang lebih baik.




