Darilaut – Jejak Syekh Yusuf Al-Makassari ulama asal Gowa Sulawesi Selatan bukan hanya benda-benda artefak fisik seperti manuskrip dan prasasti. Terdapat jejak nonfisik yang mencerminkan pengaruh budaya dan spiritual.
Ulama Syekh Yusuf berperan penting dalam perlawanan terhadap kolonialisme sekaligus penyebaran Islam hingga ke tingkat global.
Kisah ini tidak hanya tersimpan dalam naskah sejarah, tetapi juga tercermin pada situs-situs penting, salah satunya kompleks makam Syekh Yusuf di Gowa.
Di balik ketenangan kompleks makam tersebut tersimpan kisah tentang keberanian, pengasingan, dan pengaruh spiritual seorang guru sufi yang namanya dikenal hingga mancanegara.
Jejak sejarah dan pengaruh tokoh ini menjadi bahasan dalam webinar bertajuk “Mausoleum of Syekh Yusuf Al-Makassari in Gowa, Indonesia”. Kegiatan ini diselenggarakan Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban (PRKK), Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa dan Sastra (Abastra) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Jakarta, Senin (9/3).
Peneliti Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban BRIN, Roni Tabroni, menguraikan peran Syekh Yusuf sebagai tokoh yang memanfaatkan ajaran sufistik sebagai sarana perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme.
”Identitas umat Islam” pada masa itu terbentuk melalui simbol-simbol tertentu, ”seperti turban putih yang bahkan dikenakan Pangeran Diponegoro” meskipun ia tidak pernah menunaikan ibadah haji. ”Simbol tersebut menjadi penanda solidaritas sekaligus perlawanan,” kata Roni seperti dikutip dari Brin.go.id.
Roni menjelaskan bahwa pengalaman haji dan jaringan perdagangan pada abad ke-17 tidak hanya memperkuat jejaring internasional umat Islam, tetapi juga membentuk identitas politik yang kemudian menyebar ke Nusantara melalui komunitas Melayu di Ceylon.
Interaksi di kota-kota pelabuhan dan perjalanan haji turut membentuk kesadaran kolektif Islam global yang kemudian berkembang di Nusantara dan memperkuat perlawanan terhadap kolonialisme dengan landasan teologis berupa tauhid dan persatuan umat, kata Roni.
Peneliti Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban BRIN, Nurman Kholis, menjelaskan hasil penelitiannya mengenai keberadaan dan pengaruh ulama Nusantara di Afrika Selatan.
Nurman mengatakan bahwa jejak tersebut tidak hanya berupa artefak fisik seperti manuskrip dan prasasti, tetapi juga jejak nonfisik yang mencerminkan pengaruh budaya dan spiritual.
Menurut Nurman, salah satu temuan penting adalah bukti kedatangan Syekh Yusuf dari Makassar yang meninggalkan jejak di berbagai lokasi penting di Afrika Selatan, bahkan pada sejumlah nama tempat di kawasan tersebut.
Persepsi masyarakat lokal mengira istilah “Malai” merujuk pada Malaysia adalah keliru, ”karena sejarah dan artefak menunjukkan asal-usul ulama dari Sulawesi Selatan,” ujar Nurman
Nurman juga menemukan manuskrip dari Cianjur yang tersebar hingga Port Elizabeth, yang menunjukkan luasnya jaringan penyebaran budaya dan keilmuan Nusantara pada masa lalu.
Nurman mengajak masyarakat dan akademisi untuk terus menggali warisan sejarah tersebut agar jejak ulama Nusantara tetap hidup dan dikenal secara global.
Kepala Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban BRIN, Wuri Handoko, mengatakan kajian tentang Syekh Yusuf telah banyak dilakukan. Namun tantangan ke depan adalah menghadirkan perspektif dan inovasi baru yang dapat memperkaya narasi keilmuan, baik dari aspek simbolik, morfologi, maupun perspektif internasional.
Kolaborasi dan refleksi kritis seperti ini dapat membuka perspektif baru dalam studi tentang tokoh dan warisan intelektualnya, sekaligus mendorong para peneliti untuk terus menghasilkan publikasi dan menyebarluaskan pengetahuan tentang warisan budaya keislaman Nusantara.
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN, Herry Yogaswara, berharap kajian mengenai peran ulama Nusantara yang memiliki pengaruh hingga Afrika Selatan dapat menjadi pembelajaran penting sekaligus memperkuat pemahaman tentang kontribusi Indonesia dalam sejarah global.
Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban peneliti PRKK BRIN, Hamdar Arraiyah, menjelaskan makna penting makam-makam tokoh Muslim sebagai simbol penghormatan sekaligus ruang pewarisan nilai keislaman.
Seperti makam Abu Ayyub Al-Ansari di Istanbul dan makam Sultan Nahmet di Bursa, Turki, yang menjadi pusat ziarah dan penguatan memori kolektif umat.
“Praktik ziarah tidak sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menjadi media transmisi ingatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini serta memperkuat ikatan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar,” kata Hamdar.
Makam Syekh Yusuf Al-Makassari di Gowa yang hingga kini menjadi pusat spiritual sekaligus destinasi sejarah yang banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai latar belakang.
Keberadaan makam tersebut tidak hanya berfungsi sebagai situs keagamaan, tetapi juga sebagai penguat identitas budaya, sumber pengetahuan sejarah, serta potensi penggerak ekonomi lokal,” kata Hamdar.
