Roni menjelaskan bahwa pengalaman haji dan jaringan perdagangan pada abad ke-17 tidak hanya memperkuat jejaring internasional umat Islam, tetapi juga membentuk identitas politik yang kemudian menyebar ke Nusantara melalui komunitas Melayu di Ceylon.
Interaksi di kota-kota pelabuhan dan perjalanan haji turut membentuk kesadaran kolektif Islam global yang kemudian berkembang di Nusantara dan memperkuat perlawanan terhadap kolonialisme dengan landasan teologis berupa tauhid dan persatuan umat, kata Roni.
Peneliti Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban BRIN, Nurman Kholis, menjelaskan hasil penelitiannya mengenai keberadaan dan pengaruh ulama Nusantara di Afrika Selatan.
Nurman mengatakan bahwa jejak tersebut tidak hanya berupa artefak fisik seperti manuskrip dan prasasti, tetapi juga jejak nonfisik yang mencerminkan pengaruh budaya dan spiritual.
Menurut Nurman, salah satu temuan penting adalah bukti kedatangan Syekh Yusuf dari Makassar yang meninggalkan jejak di berbagai lokasi penting di Afrika Selatan, bahkan pada sejumlah nama tempat di kawasan tersebut.
Persepsi masyarakat lokal mengira istilah “Malai” merujuk pada Malaysia adalah keliru, ”karena sejarah dan artefak menunjukkan asal-usul ulama dari Sulawesi Selatan,” ujar Nurman




