“Kendati jenis asli dan endemik Indonesia, namun koleksi ilmiah lebah raksasa Wallace belum tersimpan di Museum Zoologicum Bogoriense sebagai pusat depositori nasional sekaligus museum zoologi terbesar di Asia Tenggara,” kata Pelaksana Tugas Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI, Joeni Setijo Rahajoe, seperti dikutip dari Lipi.go.id.
Penemuan ini memberikan harapan baru di tengah cepatnya penurunan keanekaragaman jenis dan populasi serangga secara global.
Lebah ini memiliki rahang bawah (mandibula) yang sangat besar. Dikoleksi oleh Alfred Russel Wallace pada tahun 1859 dan kemudian dideskripsi dan diberi nama oleh Frederick Smith pada tahun 1861.
Joeni mengatakan, dari 29.794 nomor koleksi bangsa Hymenoptera (lebah, tawon dan semut) terdapat 4.368 nomor koleksi lebah (Apidae).
Namun hanya beberapa koleksi lebah dari marga Megachile, yang memiliki mandibula besar, di antaranya Megachile clotho, M. lachesis, M. catinifrons, dan M. disjuncta.
“Hal ini yang akan menjadi perhatian kami untuk dapat memprioritaskan penemuan jenis-jenis langka dan endemik agar dapat menjadi referensi ilmiah bagi masyarakat Indonesia dan internasional,” ujar Joeni.
Menurut Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cahyo Rahmadi, tahun 2018 jenis ini ditemukan kembali dan dipublikasikan pada Journal of Insect Conservation dan dilaporkan juga memiliki nilai ekonomi tinggi.





Komentar tentang post