Kondisi Gunung Api Status Waspada di Beberapa Wilayah Indonesia

Gunung Semeru di Kabupaten Malang dan Lumajang, Jawa Timur. MAGMA.ESDM.GO.ID

Darilaut – Selain status Siaga, terdapat beberapa gunung api dengan tingkat aktivitas level II atas Waspada di Indonesia.

Berikut ini laporan kebencanaan geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, untuk gunung api status waspada, Rabu (2/12).

Gunung Semeru (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas gunung api Semeru di Jawa Timur, berada di Level II (Waspada). Gunung dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut ini mengalami erupsi tidak menerus.

Erupsi ekplosif dan efusif, menghasilkan aliran lava ke arah lereng selatan dan tenggara, serta lontaran batuan pijar di sekitar kawah puncak.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara, timurlaut, timur, tenggara, selatan, dan baratdaya. Suhu udara sekitar 22-26°C.

Terekam gempa Letusan, namun secara visual tinggi letusan dan warna abu tidak teramati. Teramati awan panas letusan dengan jarak luncur 1100 0 meter dari puncak mengarah ke Besuk Kobokan.

Teramati awan panas guguran dengan jarak luncur 500-1000 meter dari puncak mengarah ke Besuk Kobokan. Teramati guguran lava 500-1500 meter ke Besuk Kobokan.

Melalui rekaman seismograf pada 1 Desember 2020 tercatat 2 kali gempa Letusan/Erupsi, 1 kali gempa Awan Panas Letusan, 1 kali gempa Awan Panas Guguran, 37 kali gempa Guguran, 2 kali gempa Hembusan, 1 kali gempa Harmonik, 1 kali gempa Tektonik Jauh

Dalam status Waspada, masyarakat maupun pengunjung (wisatawan) tidak beraktivitas dalam radius 1 Km dari kawah/puncak Gunung Semeru dan jarak 4 Km arah bukaan kawah di sektor selatan-tenggara.

Waspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru.

Radius dan jarak rekomendasi ini akan dievaluasi terus untuk antisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya.

Gunung Api Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. Gunung Anak Krakatau dengan tinggi 157 meter di atas permukaan laut mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 17 April 2020 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Masyarakat dan wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km.

Gunung Api Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Dukono dengan tinggi 1.229 meter di atas permukaan laut mengalami erupsi menerus.

Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 4 November 2020 menghasilkan tinggi kolom erupsi 400 m. Warna kolom abu teramati putih hingga kelabu.

Masyarakat di sekitar Gunung Dukono dan pengunjung (wisatawan) agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

Gunung Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Ibu dengan tinggi 1.340 meter di atas permukaan laut mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008. Letusan menghasilkan material batuan berukuran abu hingga bongkah yang terakumulasi di dalam kawah.

Melalui rekaman seismograf pada 1 Desember 2020 tercatat 76 kali gempa Letusan/Erupsi, 180 kali gempa Guguran, 69 kali gempa Hembusan, 54 kali gempa Harmonik, 3 kali gempa Vulkanik Dalam, 6 kali gempa Tektonik Jauh.

Masyarakat di sekitar Gunung Ibu dan pengunjung atau wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 2,0 km dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan kawah di bagian utara dari kawah aktif Gunung Ibu.

Gunung Api Gamalama (Maluku Utara)

Gunung Api Gamalama dengan tingkat aktivitas Level II (Waspada) mengalami erupsi minor pada 4 Oktober 2018. Ini merupakan erupsi terakhir menghasilkan tinggi kolom erupsi 250 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati putih hingga kelabu.

Masyarakat di sekitar Gunung Gamalama dan pengunjung atau wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari kawah puncak Gunung Gamalama.

Gunung Api Kerinci (Jambi, Sumatera Barat)

Tingkat aktivitas Gunung Api Kerinci pada Level II (Waspada). Gunung dengan tinggi 3.805 meter di atas permukaan laut tersebut mengalami erupsi tidak menerus.

Letusan terakhir terjadi pada tanggal 30 Maret 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 600 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu.

Melalui rekaman seismograf pada 1 Desember 2020 tercatat 72 kali gempa Hembusan dan 2 kali gempa Tektonik Jauh.

Masyarakat di sekitar gunungapi Kerinci dan pengunjung (wisatawan) tidak diperbolehkan mendaki kawah yang ada dipuncak gunungapi kerinci didalam radius 3 km dari kawah aktif (masyarakat dilarang beraktifitas di dalam radius bahaya atau kawasan rawan bencana III.

Sebaiknya jalur penerbangan di sekitar gunungapi Kerinci dihindari karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.

Gunung Api Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gunung Api Bromo dengan ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut mengalami erupsi tidak menerus. Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 19 Juli 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Masyarakat di sekitar Gunung Bromo dan pengunjung (wisatawan) atau pendaki tidak memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif Gunung Bromo.

Gunung Api Soputan (Sulawesi Utara)

Gunung Soputan dengan tinggi 1.809 meter di atas permukaan laut mengalami penurunan aktivitas vulkanik sehingga tingkat aktivitasnya diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak 8 Oktober 2019 pukul 16.00 WITA.

Letusan terakhir terjadi pada tanggal 16 Desember 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7.000 m di atas puncak. Warna kolom abu teramati kelabu hingga hitam.

Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari puncak Gunung Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2.5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman leleran lava dan awan panas guguran.

Mewaspadai terjadinya ancaman aliran lahar, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di sekitar lereng Gunung Soputan, seperti Sungai Ranowangko, Sungai Lawian, Sungai Popang dan Londola Kelewahu.

Jika terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi terhadap gangguan saluran pernapasan.

Gunung Api Agung (Bali)

Gunung Api Agung di Bali mengalami fase erupsi mulai dari 21 November 2017 hingga 13 Juni 2019, setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (Waspada). Erupsi terakhir terjadi pada tanggal 13 Juni 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Masyarakat di sekitar Gunung Agung dan pendaki, pengunjung (wisatawan) agar tidak berada dan tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah Gunung Agung dan di seluruh area di dalam radius 2 km dari Kawah Puncak Gunung Agung.

Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak.

Exit mobile version