Jakarta – Tim Pencarian dan Pertolongan (SAR) masih terus melakukan pencarian badan pesawat yang lebih besar di sekitar lokasi bagian black box (kotak hitam) yang berhasil ditemukan.
“Malam ini masih dilakukan pencarian dengan ROV (Remotely Operated Vehicles), untuk obyek badan pesawat yang lebih besar,” kata Kabasarnas Marsekal Madya TNI M Syaugi Kamis (1/11) malam.
Kabasarnas yang memantau langsung proses pencarian di Last Know Position (LKP) mengatakan, locus pencarian malam ini dan esok hari tetap berada di sekitar lokasi di mana bagian black box berhasil ditemukan.
“Dari gambar yang dikirimkan ROV, kita melihat banyak sekali puing atau serpihan pesawat. Yang terbesar kami lihat ada roda pesawat,” ujarnya.
Kabasarnas menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh Potensi SAR yang terlibat dalam operasi. Seperti unsur TNI-Polri, Kementerian Perhubungan, BPPT, KNKT, Bakamla, Pertamina, Bea Cukai, masyarakat termasuk nelayan dan potensi lainnya.
“Kami tetap semangat, tetap solid. Selebihnya kami minta doa dari masyarakat agar seluruh korban dapat kami evakuasi dengan cepat,” katanya.
Black box yang diduga bagian dari Fligh Data Recorder (FDR) berhasil ditemukan dan diangkat tim SAR dan telah diserahkan Kabasarnas kepada perwakilan dari Komite Keselamatan Transportasi (KNKT) di atas kapal Riset Baruna Jaya BPPT di lokasi pencarian.
Selanjutnya, bagian black box tersebut dibawa ke Posko Terpadu di Jakarta International Container Terminal (JICT) 2 Pelabuhan Tanjung Priok dengan menggunakan Rigid Inflatable Boat (TIB) milik Taifib. Sampai di posko, rombongan Ketua KNKT yang membawa black box disambut Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi untuk selanjutnya digelar konferensi pers.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kerja sama dan jerih payah seluruh tim SAR sehingga pada pagi hari tadi dapat menemukan bagian black box,” kata Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono.
Menurut Soerjanto, bagian ini kemungkinan besar Fligh Data Recorder yang akan menjawab berapa kecepatan, arah, ketinggian kecepatan, dan semua data terkait pesawat.
Soerjanto berharap, black box satunya, yaitu Cockpit Voice Recorder (CVR) dapat segera ditemukan untuk mengungkap penyebab kecelakaan.
Dari lokasi pencarian, Basarnas telah membagi tugas semua asset yang terlibat dalam operasi. Area pencarian terbagi dalam 2 sektor atau prioritas pencarian.
Pasa sektor 1, tim SAR melaksanakan pencarian dengan search pattern (pola pencarian) creeping. Pada search area prioritas 2, tim SAR menggunakan pola pencarian pararel.
Pada sektor 1, kapal-kapal yang beroperasi dilengkapi dengan alat pendeteksi bawah air seperti Multi Beem Echo Sounder (MBES), Side Scan Sonar, ROV dan Ping Locator untuk mendeteksi sinyal dari black box.
Peralatan-peralatan tersebut terpasang di lima kapal, masing-masing KRI Rigel, Rubber Boat (RB) 206 Kantor SAR Bandung, Baruna Jaya BPPT, Kapal Dominos dan Teluk Bajau Pertamina. Pada sektor ini juga mengerahkan penyelam-penyelam dari Basarnas Special Group (BSG), Denjaka, Kopaska, Taifib, Marinir, dan penyelam-penyelam handal lainnya.
Sementara di sektor 2, terdapat 40 kapal lebih dari Basarnas, TNI-Polri, Kementerian Perhubungan, Polair, KPLP, Bea Cukai, ditambah kapal-kapal nelayan dan Potensi SAR lainnya.
Hingga Kamis malam pukul 20.00 WIB, sebanyak 65 kantong jenazah telah berhasil dievaluasi tim SAR dalam operasi jatuhnya pesawat Lion Air JT-610. Seluruh jenazah telah diberi label dan dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati untuk diidentifikasi lebih lanjut.
Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610 rute Cengkareng – Pangkalpinang mengalami kecelakaan 13 menit setelah lepas landas dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Senin (29/10). Pesawat dengan personal on board sebanyak 189 orang itu jatuh di kawasan Perairan Karawang.*
