Dalam laporan tersebut memberikan gambaran paling jelas sejauh ini mengenai bagaimana perubahan iklim dan tekanan lokal mengubah kondisi terumbu karang di seluruh dunia, serta bagaimana tindakan saat ini dapat memperkuat ketahanan terumbu karang di masa depan.
“Setelah puluhan tahun mempelajari terumbu karang, hal yang paling mengkhawatirkan bagi saya bukanlah hilangnya tutupan karang keras saat ini, melainkan fakta bahwa kita terus mengikis kondisi yang mereka butuhkan untuk pulih,” ujar Dr. Manuel González Rivero, penulis utama laporan tersebut.
“Perubahan iklim memicu gelombang panas laut yang lebih sering dan lebih parah, namun tekanan lokal—seperti kualitas air yang buruk, penangkapan ikan berlebihan, dan pembangunan pesisir—membuat terumbu karang semakin tidak mampu bertahan menghadapinya.”

Oleh karena itu, ”kita harus melakukan dua hal secara bersamaan: mengurangi emisi di tingkat global dan menerapkan langkah-langkah konservasi berbasis sains di tingkat lokal,” ujarnya.
Terumbu karang semakin kehabisan waktu untuk pulih. Sejak tahun 1998, setiap peristiwa pemutihan karang global berskala besar telah mengurangi tutupan karang keras secara global, di mana terumbu karang hanya sempat pulih sebagian sebelum gelombang panas laut berikutnya melanda.




