Laut Maluku Memiliki Kondisi Geologi yang Rumit dan Intensitas Kegempaan Sangat Tinggi

Peta Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi dan Lokasi Pusat Gempa Bumi. GAMBAR: Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi

Darilaut – Gempa bumi magnitudo (M)7,6  di dekat Pulau Batang Dua, Laut Maluku, mengguncang sejumlah wilayah di Provinsi Sulawesi Utara, Maluku Utara dan Gorontalo.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, mengatakan Laut Maluku dan sekitarnya dipengaruhi oleh sistem subduksi ganda yang menunjam ke kedua arah yang berlawanan, yaitu ke arah barat ke Kepulauan Sangihe dan ke arah timur ke Kepulauan Halmahera.

Dengan kondisi tersebut, menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, membuat perairan ini memiliki kondisi geologi yang rumit dan intensitas kegempaan yang sangat tinggi.

Konsekuensi pergerakan lempeng tektonik ke kedua arah tersebut, telah menghasilkan proses pelelehan sebagian lempeng yang menunjam, sehingga memunculkan rangkaian gunung api di kedua sisi, yaitu di Kepulauan Sangihe dan di Kepulauan Halmahera, kata Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

Gempa bumi yang terjadi pada tanggal 2 April 2026 tersebut, berasosiasi dengan aktivitas zona subduksi ganda ini, yang seringkali disebut sebagai Zona Subduksi Ganda Punggungan Mayu.

Berdasarkan kondisi geologinya, wilayah terdampak tersusun oleh litologi batuan gunung api berumur Tersier hingga Kuarter, batuan sedimen dan karbonat berumur Tersier hingga Kuarter serta endapan alluvium berumur Holosen.

Batuan yang telah mengalami pelapukan dan sedimen permukaan berpotensi memperkuat guncangan gempa bumi, menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

Kekerasan batuan permukaan dipengaruhi oleh umur dan jenis batuan. Batuan yang berumur lebih muda atau yang telah mengalami pelapukan mempunyai kekerasan lebih rendah begitu juga sebaliknya

Wilayah terdekat dengan pusat gempa bumi diklasifikasikan ke dalam kelas tanah keras (C), tanah sedang (D), hingga lunak (E) (Gambar 2). Wilayah terdampak memiliki morfologi bervariasi dari dataran, berombak, bergelombang, perbukitan hingga pegunungan.

Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi beberapa stasiun pencatat pasang surut Badan Informasi Geospasial merekam gelombang tsunami dengan ketinggian 20 cm hingga 80 cm.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi merekomendasikan:

Exit mobile version