Lonjakan Karbon Dioksida Bersamaan dengan Fenomena El Niño

FOTO: WMO

Darilaut – Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan lonjakan karbon dioksida (CO2) yang mencapai rekor tertinggi akan berdampak pada kita selama berabad-abad.

Pertumbuhan karbon dioksida telah meningkat tiga kali lipat sejak tahun 1960-an, dari rata-rata kenaikan tahunan sebesar 0,8 ppm per tahun menjadi 2,4 ppm per tahun dalam dekade antara 2011 hingga 2020.

Menurut pejabat ilmiah senior WMO, Oksana Tarasova, lonjakan luar biasa –sebesar 3,5 ppm–  pada periode 2023-2024 terjadi bersamaan dengan fenomena El Niño yang kuat.

Laju pertumbuhan yang lebih moderat dari tahun 2024 hingga 2025 mencerminkan pemulihan penyerap karbon di daratan (land carbon sinks) serta berkurangnya emisi karbon akibat kebakaran pada tahun 2025, menyusul peristiwa El Niño yang kuat pada 2023/2024.

Peristiwa ini sempat menurunkan efisiensi biosfer akibat meningkatnya kekeringan, vegetasi yang lebih kering, serta lebih banyaknya kebakaran hutan dan lahan.

Namun, menurut Tarasova, peningkatan tahunan sebesar 2,8 ppm tetap merupakan penambahan karbon yang substansial ke atmosfer akibat pembakaran bahan bakar fosil. Kita dapat memperkirakan peningkatan konsentrasi lebih lanjut pada tahun 2026, yang disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil serta munculnya fenomena El Niño yang kuat —yang akan berdampak pada penyerap karbon di daratan, sebagaimana yang terjadi pada tahun 2023/2024.

”Risiko berkurangnya penyerapan CO2 oleh lautan juga kian meningkat di tengah iklim kita yang terus berubah,” ujar Tarasova mengutip siaran pers WMO.

Meningkat Tiga Kali Lipat

Buletin WMO melaporkan jumlah gas yang terakumulasi di atmosfer, bukan emisi tahunan yang baru dihasilkan. Sekitar separuh dari total CO2 yang dilepaskan setiap tahun tetap berada di atmosfer, sementara sisanya diserap oleh ekosistem daratan dan lautan di Bumi.

Indeks Gas Rumah Kaca Tahunan dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat menunjukkan bahwa antara tahun 1990 hingga 2025, efek pemanasan terhadap iklim kita yang disebabkan oleh gas rumah kaca telah meningkat sebesar 56 persen. CO2 menyumbang sekitar 81 persen dari peningkatan ini, yang dikenal sebagai “pemaksaan radiatif” (radiative forcing).

Menurut WMO tingkat CO2 dan gas rumah kaca utama lainnya di atmosfer—yang diakibatkan oleh pembakaran bahan bakar fosil—mencapai rekor tertinggi pada tahun 2025. Hal ini mengunci pemanasan global jangka panjang yang lebih besar.

Buletin Gas Rumah Kaca terbaru dari badan tersebut menunjukkan konsentrasi rata-rata global CO2 sebesar 426,8 bagian per juta (ppm) pada tahun lalu, atau 153 persen dari tingkat dasar era pra-industri tahun 1750.

Memerangkap Panas

Wakil Sekretaris Jenderal WMO, Ko Barrett, kepada para jurnalis di Jenewa, mengatakan setiap tambahan satu bagian per juta (ppm) sangatlah berarti karena akan memerangkap lebih banyak panas.

Pada dasarnya, ”kita sedang meningkatkan intensitas panas di lautan dan atmosfer secara drastis. Ini berarti gelombang panas, siklon tropis, dan badai hujan menjadi lebih intens dengan kecepatan yang melampaui apa yang pernah kita alami dalam catatan sejarah,” ujar Barrett.

Yang tak kalah mengkhawatirkan, kadar metana dan dinitrogen oksida—gas rumah kaca berumur panjang yang menempati urutan kedua dan ketiga paling signifikan akibat aktivitas manusia—juga mencapai puncak baru pada tahun 2025.

“Satu tahun berlalu, rekor baru pun tercipta. Gas-gas rumah kaca memerangkap panas dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya di atmosfer, yang menjadi sumber energi bagi cuaca yang lebih ekstrem serta menimbulkan risiko terkait bagi perekonomian dan masyarakat kita,” tegas Barrett.

“Sebelas tahun terakhir merupakan periode terhangat yang pernah tercatat, dan tren ini diperkirakan akan terus berlanjut. CO2 memiliki masa hidup yang sangat panjang, sehingga dampaknya terhadap iklim global tidak hanya akan terasa selama bertahun-tahun, tetapi juga selama beberapa dekade, bahkan berabad-abad ke depan.”

Saat Buletin ini pertama kali diterbitkan pada tahun 2004, rata-rata tingkat CO2 tahunan yang diukur oleh jaringan stasiun pemantau Global Atmosphere Watch milik WMO adalah 377,5 ppm, dibandingkan dengan hampir 427 ppm saat ini.

Exit mobile version