”Risiko berkurangnya penyerapan CO2 oleh lautan juga kian meningkat di tengah iklim kita yang terus berubah,” ujar Tarasova mengutip siaran pers WMO.
Meningkat Tiga Kali Lipat
Buletin WMO melaporkan jumlah gas yang terakumulasi di atmosfer, bukan emisi tahunan yang baru dihasilkan. Sekitar separuh dari total CO2 yang dilepaskan setiap tahun tetap berada di atmosfer, sementara sisanya diserap oleh ekosistem daratan dan lautan di Bumi.
Indeks Gas Rumah Kaca Tahunan dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat menunjukkan bahwa antara tahun 1990 hingga 2025, efek pemanasan terhadap iklim kita yang disebabkan oleh gas rumah kaca telah meningkat sebesar 56 persen. CO2 menyumbang sekitar 81 persen dari peningkatan ini, yang dikenal sebagai “pemaksaan radiatif” (radiative forcing).
Menurut WMO tingkat CO2 dan gas rumah kaca utama lainnya di atmosfer—yang diakibatkan oleh pembakaran bahan bakar fosil—mencapai rekor tertinggi pada tahun 2025. Hal ini mengunci pemanasan global jangka panjang yang lebih besar.
Buletin Gas Rumah Kaca terbaru dari badan tersebut menunjukkan konsentrasi rata-rata global CO2 sebesar 426,8 bagian per juta (ppm) pada tahun lalu, atau 153 persen dari tingkat dasar era pra-industri tahun 1750.




