Lukisan Pulau Muna Merekam Tradisi Maritim dan Narasi Hidup Dari 67.800 Tahun Lalu

Gambar cadas tertua di dunia berupa cap tangan manusia berusia 67.800 tahun di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. FOTO: BRIN

Darilaut – Satu lagi situs arkeologi penting ditemukan di Pulau Sulawesi. Penelitian kolaboratif Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Griffith University dan Southern Cross University (Australia) mencatat tonggak penting situs Leang Metanduno di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.

Gambar cadas tertua di dunia berupa cap tangan manusia yang berusia setidaknya 67.800 tahun ditemukan di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Gambar ini merekam narasi hidup manusia modern. Terdapat gambar-gambar perahu sebagai bukti kuat tradisi maritim Masyarakat dan pelayaran.

Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Nature dengan judul “Rock art from at least 67,800 years ago in Sulawesi”

Peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN, Adhi Agus Octaviana, mengatakan Leang Metanduno salah satu situs penting di Pulau Muna yang memperlihatkan bahwa seni cadas tidak hanya berupa stensil cap tangan, tetapi juga menggambarkan hubungan manusia dengan hewan, alam, dan aktivitas sosial.

“Di Metanduno ini tidak hanya ada tiga cap tangan. Banyak yang sudah tertutup koraloid. Yang menarik, di sini muncul narasi manusia modern dengan hewan dan lingkungannya,” ujar Adhi, Kamis (22/1), seperti dikutip dari Brin.go.id.

Adhi menjelaskan tim peneliti telah membuat model 3D kondisi gua Leang Metanduno untuk melihat komposisi panel gambar secara lebih utuh.

“Ini kondisi guanya, kami sudah membuat model 3D. Dan memang di Metanduno itu didominasi oleh gambar-gambar penutur Austronesia,” ujarnya.

Berbeda dengan situs seni cadas tertua yang umumnya berupa cap tangan prasejarah, Metanduno justru memperlihatkan fase budaya yang lebih muda, ketika manusia telah mengenal pelayaran, domestikasi, dan perburuan terorganisasi.

Tradisi Maririm

Dalam panel Metanduno, Adhi menunjukkan adanya figur hewan berukuran besar yang menyerupai kuda atau sapi, disertai gambar-gambar perahu sebagai bukti kuat tradisi maritim masyarakat di masa lalu.

Salah satu yang paling besar terlihat seperti gambar kuda atau sapi besar. Lalu ada ”gambar perahu, ini bukti-bukti maritim,” kata Adhi. Ada juga domestikasi dan adegan perburuan.

Tidak hanya hewan, figur manusia juga mendominasi panel. Kebanyakan ada figur manusia dan panel penanggalannya berada di bagian kanan, di langit-langit gua, kata Adhi.

Beberapa gambar kini tertutup lapisan mineral (koraloid) dan warna coklat, namun narasinya masih dapat dikenali.

“Ada gambar seperti ayam, ada orang naik kuda mungkin sambil memegang parang. Ada juga figur warna hitam di sana,” ujarnya.

Menurut Adhi, gambar cadas di Metanduno memperlihatkan bahwa seni prasejarah bukan sekadar ekspresi visual, tetapi juga arsip sosial yang merekam cara manusia berinteraksi dengan alam, hewan, teknologi, dan sesamanya.

“Di sini kita tidak hanya melihat cap tangan, tetapi cerita tentang pelayaran, perburuan, domestikasi, dan kehidupan manusia modern di Nusantara,” kata Adhi.

Dengan demikian, temuan gambar cadas di Leang Metanduno memperkuat posisi Indonesia bukan hanya sebagai lokasi seni tertua dunia, tetapi juga sebagai ruang penting narasi panjang peradaban manusia di Asia–Pasifik.

Jari Sempit

Peneliti Prof. Maxime Aubert menjelaskan bahwa temuan gambar stensil cap tangan yang berusia 67.800 tahun ini tidak hanya penting karena umurnya, tetapi juga karena gaya visualnya yang unik.

Menurut Prof. Maxime seni cadas tertua di dunia ini bukan sekadar cetakan tangan biasa.

“Ini adalah jenis stensil yang hanya ditemukan di Sulawesi. Kami menyebutnya stensil jari sempit,” ujarnya.

Ciri khasnya, jari-jari tampak runcing dan memanjang. Cara pembuatannya pun masih menjadi teka-teki.

“Kami tidak tahu apakah mereka memodifikasi bentuk tangan, atau menggerakkan jari saat meniup pigmen. Tapi ini menunjukkan pemikiran yang lebih maju,” kata Prof. Maxime.

Prof. Maxime mengatakan motif tersebut mengindikasikan bahwa manusia purba tidak sekadar menempelkan tangan, tetapi secara sadar memodifikasi bentuk visualnya.

Bahkan, Prof. Maxime menduga bentuk itu mungkin terinspirasi dari cakar hewan. “Kami menduga mungkin ada hubungannya dengan cakar hewan, tapi maknanya belum bisa dipastikan,” ujarnya.

Gaya stensil serupa juga muncul pada lukisan berusia 20 ribu tahun di Sulawesi, menunjukkan tradisi visual ini telah berlangsung sangat lama.

Exit mobile version