Fakultas Sastra dan Budaya UNG memiliki ruang yang sangat besar untuk pengembangan kapasitas tersebut. Bidang bahasa, sastra, seni, budaya, hingga pariwisata memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat dan perkembangan industri kreatif, kata Zulkifli.
Karena itu, menurut Zulkifli, mahasiswa dituntut tidak berhenti pada teori, tetapi mampu mengubah pengetahuan menjadi gagasan, karya, penelitian, maupun inovasi yang memberikan manfaat nyata.
Di sinilah penguatan sumber daya manusia menjadi fondasi utama.
”Mahasiswa perlu memiliki keberanian untuk bertanya, membaca, meneliti, berdiskusi, berorganisasi, mengikuti kompetisi, membangun jejaring, hingga terlibat dalam berbagai kegiatan akademik dan nonakademik,” ujarnya.
”Pengalaman-pengalaman tersebut pada akhirnya akan membentuk mahasiswa menjadi pribadi yang lebih siap menghadapi dunia profesional.”
Salah satu hal menarik dari materi yang disampaikan Zulkifli Tanipu adalah pentingnya menempatkan riset sebagai bagian dari budaya akademik mahasiswa.
Riset bukan hanya milik dosen atau mahasiswa tingkat akhir. ”Sejak semester awal, mahasiswa sesungguhnya sudah dapat belajar menjadi seorang peneliti melalui hal sederhana,” mengamati persoalan di lingkungan sekitar, membaca referensi, mengajukan pertanyaan, ”mengumpulkan data, kemudian mencari solusi berdasarkan pendekatan ilmiah,” kata Zulkifli.




