Darilaut – Untuk melestarikan tradisi lokal Gorontalo, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menggelar sosialisasi Wungguli lo Me’eraji dengan memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan artifisial.
Kegiatan ini dengan tema ”Pemberdayaan Anak di Kawasan Pesisir Teluk Tomini Melalui Pelatihan Me’eraji berbasis Artificial Intelligence Sebagai Upaya Pelestarian Budaya Lokal” berlangsung di Desa Sipatana, Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato, pada Kamis (12/9).
Hadir dalam kegiatan tersebut tiga narasumber yang berasal dari dosen dan alumni di lingkungan Fakultas Sastra dan Budaya (FSB) UNG, yakni Eka Sartika, Ayu Hidayanti Ali, dan Bima Katara.
Wungguli lo Me’eraji merupakan tradisi lisan berbahasa daerah Gorontalo yang mengisahkan perjalanan isra dan mikraj yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.
Selain berbahasa daerah, Wungguli lo Me’raji juga menggunakan beberapa kalimat dan istilah dalam bahasa Arab yang mengandung pesan-pesan moral agar semua masyarakat berbuat baik dan berbudi luhur terhadap sesama makhluk Allah.
Dosen FSB UNG sekaligus Pembimbing Lapangan pada KKN Tematik Desa Sipatana, Ayu Hidayanti Ali, mengatakan, saat ini, sudah banyak budaya lokal Gorontalo yang makin hari tidak diminati oleh generasi muda.
Perkembangan teknologi yang begitu pesat, menurut Ayu, semakin memarginalkan kebudayaan lokal.
Karena itu, melalui kegiatan tersebut, berkolaborasi dengan mahasiswa, Bima Katara, memberikan pelatihan Wungguli lo Me’eraji yang dibalut dengan memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence sebagai bentuk pelestarian tradisi lokal Gorontalo.
“Kegiatan ini sebagai upaya pelestarian budaya lokal Gorontalo yang makin hari tidak diminati generasi muda,” kata Ayu.
Apalagi, kata Ayu, dengan masifnya perkembangan teknologi yang begitu pesat, terkesan memarginalkan kebudayaan lokal.
”Kegiatan ini dilakukan untuk mensosialisasikan pelatihan Me’eraji dengan memanfaatkan teknologi berupa AI,” ujarnya.
Ayu berharap melalui sosialiasi yang memanfaatkan teknologi ini dapat menarik perhatian generasi muda agar lebih peduli pada tradisi lokal.
Rema muda juga diharapkan lebih cakap Information technology (IT) dalam hal-hal yang positif, ujarnya.
