Darilaut – Kawasan pantai dan perairan Botutonuo di Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, selama ini telah dikenal sebagai destinasi wisata bagi penduduk lokal Gorontalo.
Ada enam lorong untuk mengakses pantai. Setiap lorong dijadikan tempat bersantai di gazebo, mandi dan berenang di laut.
Pengunjung segala umur mendatangi tempat ini dalam jumlah banyak di hari libur, akhir pekan atau minggu. Terdapat perahu wisata bagi pengunjung yang ingin berkeliling di kolam air laut.
Selain berenang di pinggiran atau bibir pantai, ada juga tempat snorkeling yang ditumbuhi terumbu yang berusia jutaan tahun. Terumbu ini sebagian tumbuh dengan baik.
Pantai Botutonuo memiliki kolam atau laguna yang terbentuk dari terumbu karang penghalang atau barrier reef.
Terumbu karang penghalang tersebut dipisahkan dari garis pantai oleh hamparan air.
Seringkali pengunjung, tidak terlalu memperhatikan apabila di depan, sejauh mata memandang, terdapat terumbu penghalang berjarak sekitar setengah kilo meter dari pantai berpasir Botutonuo.
Di sepanjang barrier reef 700 meter, ada beberapa titik yang ditumbuhi bunga karang raksasa (spons), khas Teluk Tomini, yang disebut salvador dali.
Nama salvador dali disematkan untuk bunga karang raksasa Teluk Tomini karena corak, struktur dan lekukannya mirip dengan karya surealisme Salvador Dali, seniman serba bisa.
Bunga karang raksasa yang bertumbuh tersebut, berusia ribuan tahun dan memiliki kekhasan.
Di barrier reef Botutonuo itu terdapat spot terumbu berbentuk piramida.
Mantra terumbu penghalang berbentuk piramida di Botutonuo, berada di kedalaman lebih dari 15 meter.
Adapun bunga karang raksasa yang tumbuh di terumbu penghalang berbentuk piramida di kedalaman 26 meter.
Barrier reef piramida di Botutonuo telah menjadi spot fotografi bawah laut bagi yang memilih lokasi ini untuk penyelaman.
Pada Sabtu 7 September 2024, puluhan penyelam (divers) Gorontalo membentangkan spanduk bawah laut sebagai ucapan selamat untuk Hari Ulang Tahun Kompas TV ke -13, di piramida salvador Botutonuo.
Komunitas penyelam Gorontalo berasal dari Divers Santuy, Kelompok Masyarakat Penggerak Konservasi (Kompak) Barrier Reef Botutonuo, Seahorse Scuba Dive 563, Dolphin Scuba Dive, Wawahea Gorontalo Community, Bubara Putih dan penyelam Universitas Negeri Gorontalo.
Di barrier reef Botutonou juga terdapat salvador berbentuk lonjong di kedalaman 17 meter.
”Beragam biota laut ada di barrier reef Botutonuo,” kata Alinton Pisuna Ketua Kompak Barrier Reef Botutonuo.
Alinton belum lama ini memperoleh penghargaan local hero dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan karena berupaya dan menjaga transplantasi karang di Botutonuo.
Fotografi Makro Biota Laut
Beragam biota laut dapat dilihat di Botubarani, termasuk untuk hunting fotografer, seperti nudibranch atau siput laut. Nudibranch, hewan laut karnivora, bertubuh kecil dan memiliki warna yang beragam.
“Ada berbagai warna dan bentuk nudibranch di barrier reef Botutonuo,” kata Hidayat dari Divers Santuy .
Berburu nudibranch bagi penggemar fotografi makro bawah laut memiliki tantangan tersendiri. Sebelum melakukan penyelaman untuk memotret nudibranch perlu ada informasi awal, di lokasi mana saja kemungkinan biota laut ini dapat ditemui.
Begitu pula dengan biota laut lainnya yang dapat dijadikan subyek untuk memotret makro biota laut.
Di musim tertentu di perairan Botubarani dapat ditemui spesies penyu. Selain itu, blacktip shark (hiu karang sirip hitam, ikan barakuda, napoleon, ikan cupang laut dan nudibranchia.
Kondisi Kualitas Air
Peneliti Kelautan dan Wisata Bahari, Gusnar Lubis Ismail, mengatakan, hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi terumbu karang di barrier reef Botutonuo di kedalaman 3 dan 10 meter berada dalam kondisi sedang sampai baik.
“Untuk parameter kualitas air yang terdiri dari kedalaman, kecerahan, dan kecepatan arus berada dalam kondisi yang baik untuk wisata snorkeling dan diving,” kata Gusnar yang melakukan penelitian di lokasi tersebut, untuk program magister di Universitas Negeri Gorontalo, pada 2023.
Menurut Gusnar berdasarkan analisis kesesuaian wisata diperoleh bahwa wisata snorkeling dan diving pada stasiun I dan II berada dalam kategori sesuai hingga sangat sesuai, sedangkan stasiun III tidak sesuai.
Penelitian ini untuk mengidentifikasi potensi biofisik, analisis tingkat kesesuaian dan daya dukung wisata, serta merumuskan strategi pengembangan wisata bahari di barrier reef Botutonuo. (VM)
