Pembentukannya pun berlangsung sangat lambat. Dalam kondisi ideal, pembentukan lapisan gambut setebal satu milimeter membutuhkan waktu sekitar satu tahun.
Karena itu, kerusakan akibat kebakaran dalam waktu singkat dapat menghilangkan hasil proses ekologis yang berlangsung selama ribuan tahun.
“Gambut juga memiliki arti penting dalam mitigasi perubahan iklim,” kata Dony seperti dikutip dari Brin.go.id.
Meskipun secara global hanya menutupi sekitar tiga persen permukaan daratan, ekosistem gambut menyimpan lebih dari 30 persen karbon tanah dunia. Ketika gambut mengalami pengeringan dan terbakar, karbon yang tersimpan tersebut dapat terlepas ke atmosfer.
Di Indonesia, menurut Dony, terdapat perbedaan antara luas tanah gambut dan luas ekosistem gambut. Luas tanah gambut dengan ketebalan lebih dari 50 sentimeter sekitar 13,4 juta hektare.
Sementara itu, jika menggunakan pendekatan Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG), luas ekosistem gambut mencapai sekitar 24 juta hektare.
Kesatuan Hidrologis Gambut merupakan satu kesatuan lanskap gambut yang umumnya berada di antara dua sungai. Pendekatan ini penting karena pengelolaan gambut tidak dapat dilakukan hanya pada titik tempat tanah gambut ditemukan, melainkan harus mempertimbangkan sistem hidrologi dalam satu bentang alam.




