Darilaut – Karakteristik lahan gambut perlu dipahami agar penanganan kebakaran tidak disamakan dengan tanah mineral. Gambut terbentuk dalam kondisi rawa yang minim oksigen sehingga proses dekomposisi bahan organik tidak berlangsung sempurna.
Proses tersebut menghasilkan lapisan organik tebal yang kaya karbon sekaligus memiliki kemampuan besar dalam menyimpan air.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dony Rachmanadi, mengatakan, sebetulnya kebakaran gambut itu masalahnya pada hidrologi. Masalah api merupakan dampak lanjutannya.
”Kalau kita mau menyelesaikan kebakaran, kita harus bisa menyelesaikan masalah hidrologinya,” ujar Dony dalam Media Lounge Discussion di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Selasa (6/10).
Kebakaran lahan gambut tidak dapat diselesaikan hanya dengan memadamkan api. Perubahan kondisi hidrologi yang membuat gambut kehilangan air menjadi persoalan utama yang perlu ditangani untuk mencegah kebakaran berulang sekaligus mempertahankan fungsi ekologisnya.
Dony menjelaskan gambut pada dasarnya merupakan ekosistem lahan basah yang terbentuk dari akumulasi sisa tumbuhan selama ribuan tahun. Dalam kondisi alami, gambut jenuh air dan mampu menyimpan air hingga sekitar 13 kali bobotnya.
Namun, kondisi tersebut berubah ketika gambut dikeringkan untuk berbagai kepentingan. Pembuatan kanal dan pengeluaran air dari kawasan gambut menyebabkan bahan organik yang sebelumnya basah menjadi kering dan mudah terbakar.




