Darilaut – Tantangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) bagi industri pers tidak hanya pada peningkatan efisiensi ruang redaksi. Persoalan distribusi audiens, posisi tawar dalam negosiasi, transparansi penggunaan konten, dan pembagian nilai ekonomi saling berkaitan dan menentukan kemampuan media mempertahankan bisnisnya.
Negosiasi antara media dan perusahaan teknologi besar (Big Tech) seperti Google tidak berlangsung semata-mata mengenai besaran kompensasi. Media membutuhkan platform untuk menjangkau audiens, sementara platform dan perusahaan AI memanfaatkan informasi yang diproduksi oleh organisasi pers.
Perbedaan sumber daya dan tingkat ketergantungan kedua pihak kemudian memunculkan pertanyaan mengenai siapa yang lebih membutuhkan siapa, sekaligus seberapa besar posisi tawar media dalam menentukan syarat penggunaan karya jurnalistik mereka.
Melalui pembahasan Forum Jurnalis ASEAN penguatan pelindungan hak cipta dan kerja sama regional diperlukan agar inovasi teknologi dapat berkembang tanpa mengabaikan hak serta keberlanjutan media yang menghasilkan karya jurnalistik.
Kecerdasan buatan membantu meningkatkan produktivitas kerja jurnalistik, tetapi manfaat tersebut belum tentu berbanding lurus dengan peningkatan independensi media.




