Tantangan utamanya bukan hanya bagaimana media memanfaatkan teknologi, melainkan juga siapa yang menguasai akses kepada audiens dan memperoleh nilai ekonomi dari karya jurnalistik di tengah dominasi platform digital dan perusahaan teknologi besar.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam sesi Identifying Shared Challenges Regarding the Use of Journalistic Works by Digital Platforms and AI Technologies pada ASEAN Forum on the Protection of Journalistic Works in the Copyright Regime in the Digital Era 2026 di The Patra Hotel, Bali, Sabtu (10/10).
Perwakilan Indonesia, Singapura, Myanmar, dan Timor-Leste berbagi pandangan mengenai tantangan pemanfaatan AI, posisi tawar media, serta kebutuhan melindungi karya jurnalistik agar keberlanjutan pers tetap terjaga.
Dari Indonesia, Dahlan Dahi, yang membidangi Digital dan Keberlanjutan di Dewan Pers, menggambarkan besarnya peluang sekaligus tantangan industri media di tengah perkembangan ekosistem digital.
Dalam presentasinya, Dahlan mencantumkan Indonesia memiliki 286 juta penduduk, 230 juta pengguna internet, dan 180 juta identitas pengguna media sosial. Besarnya audiens digital tersebut menjadi peluang bagi penerbit, tetapi tidak otomatis menjamin bahwa media memperoleh manfaat ekonomi yang sepadan dari konten yang mereka hasilkan.




