Keduanya merupakan jenis kerang yang tidak dikonsumsi manusia, namun memiliki kandungan nutrien tinggi dan sangat potensial sebagai pakan alami bagi lobster.
“Upaya ini, merupakan bagian dari strategi besar KKP untuk mendorong efisiensi dan keberlanjutan dalam budidaya lobster nasional. Dengan memanfaatkan potensi lokal seperti kerang kupang maupun kerang coklat,” kata Tebe, pada Rabu (14/5).
Pembudidaya Kerang
Plt. Kepala BPBL Batam, Ipong Adi Guna, menjelaskan bahwa Batam, Kepulauan Riau, merupakan lokasi strategis untuk pengembangan budidaya lobster. Selain dekat dengan Singapura dan Malaysia sebagai pasar, perairan Batam kaya nutrien.
Selama tujuh bulan masa pemeliharaan lobster di lokasi modeling, ketersediaan kerang untuk pakan selalu terpenuhi.
“Alhamdulillah hasil panen kerangnya selalu bagus. Bantuan yang telah diberikan berupa KJA masing-masing berukuran 4 lubang KJA dengan luas 3 x 3 meter. Media pemeliharaan kerang berupa tali yang dibentang sebanyak 250 tali kerang per unit KJA, dikelola oleh 3 kelompok pembudidaya kerang,” ujarnya.
Rusli, salah satu pembudidaya kerang dari Tanjung Uma mengatakan peningkatan produksi setelah mendapat bantuan sarana budidaya dari KKP. Hasil panen kerang hijau meningkat sampai enam kali lipat dibanding sebelumnya.




