Darilaut – Peningkatan pariwisata bahari secara global, khususnya wisata hiu paus (Rhincodon typus), telah muncul sebagai kegiatan ekonomi yang signifikan, termasuk di Indonesia. Salah satunya di pantai Desa Botubarani, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, Teluk Tomini.
Meskipun hal ini menawarkan manfaat substansial bagi masyarakat lokal, seperti pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, namun juga menghadirkan tantangan signifikan bagi upaya konservasi.
Untuk memastikan praktik pariwisata berkelanjutan dan konservasi hiu paus di perairan Botubarani, Tatak Setiadi dan Jauhar Wahyuni peneliti Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Negeri Surabaya, serta Iin Susilawati Lantu dari Jurusan Teknologi Pengolahan Ikan, Universitas Negeri Gorontalo, menyoroti kegiatan ekonomi wisata hiu paus dan kepentingan ekologisnya.
Kolaborasi ini menghasilkan kajian dengan judul Stakeholder dynamics in Whale Shark Conservation: A social-economic analysis of marine tourism in Botubarani Beach, Gorontalo, Indonesia dan telah dipublikasi baru-baru ini melalui The 24th International Conference on Marine Technology (SENTA 2024) – IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science.
Menurut peneliti, meningkatnya jumlah pengunjung telah memberikan tekanan pada lingkungan laut setempat. Untuk menjamin keberlanjutan wisata hiu paus dalam jangka panjang, sangat penting untuk mendorong kolaborasi antara para pemangku kepentingan, menetapkan peraturan yang transparan, mempromosikan tujuan bersama, dan memfasilitasi komunikasi yang efektif melalui dialog terbuka.
Para pemangku kepentingan lokal sangat memahami wisata hiu paus sebagai sarana pertumbuhan ekonomi, dan ada yang beralih dari penangkapan ikan tradisional ke kegiatan terkait pariwisata.
Namun demikian, tantangan tetap ada dalam bentuk keterbatasan sumber daya, kekurangan infrastruktur, dan persaingan antara operator pariwisata dan konservasi laut.
Selain itu, kegiatan ini dapat menyebabkan tantangan lingkungan seperti degradasi terumbu karang, polusi, dan gangguan terhadap satwa liar. Karena itu, ada kebutuhan mendesak untuk praktik pariwisata berkelanjutan
Analisis sosial ekonomi pariwisata di pantai Botubarani penting dilakukan tidak hanya menyangkut siapa saja yang terlibat dan memanfaatkan peluang ekonomi, namun juga keberadaan hiu paus itu sendiri sebagai satwa laut yang dilindungi di Indonesia dan internasional
Signifikansi budaya dan ekonomi wisata hiu paus terkait erat dengan kepentingan ekologi. Pantai Botubarani telah mendapat pengakuan sebagai tujuan wisata hiu paus. Kemunculan hiu paus di perairan Gorontalo Teluk Tomini menjadikannya lokasi yang ideal untuk ekowisata dan geowisata.
Untuk itu, memahami dinamika di antara berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam konservasi dan pariwisata hiu paus di Pantai Botubarani sangat penting untuk memastikan praktik pariwisata yang berkelanjutan.
Dalam konteks konservasi hiu paus dan wisata bahari, pemangku kepentingan mencakup semua individu, kelompok, dan organisasi yang memiliki kepentingan dalam pengelolaan, perlindungan, dan penggunaan sumber daya laut.
Para pemangku kepentingan ini biasanya terdiri dari masyarakat lokal, lembaga pemerintah, organisasi konservasi, wisatawan, dan pelaku sektor swasta.
Dinamika antara pemangku kepentingan utama di pantai Botubarani sangat penting untuk menciptakan nilai sosial ekonomi dan menerapkan strategi konservasi hiu paus yang efektif. Koeksistensi berbagai pemangku kepentingan di pantai menghadirkan peluang untuk kolaborasi, serta potensi konflik.
Di Desa Botubarani, terdapat berbagai jenis partisipasi, termasuk pengambilan keputusan, implementasi, manfaat, dan evaluasi. Penting untuk mengatasi potensi konflik yang mungkin timbul antara masyarakat lokal.
Penelitian ini dilakukan dengan observasi lapangan dan wawancara mendalam dengan beberapa pemangku kepentingan utama di kawasan konservasi hiu paus.
Kajian data kualitatif menggunakan analisis pemangku kepentingan dengan memetakan setiap tingkat kepentingan dan kekuatan pengaruh. Kemudian, melalui analisis partisipasi, ditemukan dinamika sosial yang mendorong tumbuhnya wisata hiu paus.
Temuan tersebut mengungkap beberapa sudut pandang di antara berbagai pemangku kepentingan untuk mempertahankan kawasan konservasi dengan atau tanpa kehadiran hiu paus itu sendiri.
Beragam kegiatan pariwisata seperti menyelam, snorkeling, memancing, berperahu, dan mengamati satwa liar laut melayani spektrum wisatawan yang luas, dari sekadar petualang hingga ekowisata.
Menyeimbangkan potensi ekonomi pariwisata hiu paus dengan kebutuhan untuk melindungi spesies yang terancam punah ini merupakan masalah yang kompleks, yang memerlukan pertimbangan prioritas yang cermat dari tujuan konservasi dan pariwisata.
”Masyarakat setempat sadar akan pentingnya menjaga keberadaan hiu paus di daerah tersebut untuk memastikan ketersediaan peluang pariwisata yang berkelanjutan melalui inisiatif konservasi,” kata Tatak Setiadi, penulis pertama.
”Sangat penting untuk mencapai keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan keberlanjutan ekologi, karena keberlangsungan pariwisata jangka panjang di pantai Botubarani bergantung pada kondisi laut dan keselamatan hiu paus,” ujarnya. (Verrianto Madjowa)