Salah satu pilar dari rencana tersebut adalah meyakinkan penduduk untuk meninggalkan plastik sekali pakai.
Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB (UNEP), Inger Andersen, mengatakan, mengakhiri polusi plastik jelas merupakan keharusan bagi kesehatan manusia, kesehatan planet, kesehatan ekonomi, dan kesehatan bisnis.
“Mengakhiri polusi plastik adalah mungkin. Namun, kita tidak bisa hanya mengandalkan daur ulang. Hanya dengan menangani siklus hidup penuh, serta menggunakan pendekatan sirkular, kita dapat memastikan bahwa polusi plastik tidak mencemari lautan, tanah, dan tubuh kita,” ujarnya.
“Ini berarti kita harus memikirkan ulang cara kita mendesain, membuat, menggunakan, dan mendaur ulang plastik.”
Polusi plastik merembes ke setiap sudut planet ini. Pada tahun 2040, kebocoran plastik ke lingkungan diperkirakan akan meningkat hingga 50 persen, dan polusi tersebut menyusup ke tubuh kita melalui makanan yang kita makan, air yang kita minum, dan bahkan udara yang kita hirup.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025 menyerukan tindakan kolektif untuk mengatasi polusi plastik. Hal ini terjadi tepat dua bulan sebelum negara-negara melanjutkan negosiasi menuju perjanjian global untuk mengakhiri polusi plastik.
Dalam pesannya untuk Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, sampah plastik menyumbat sungai, mencemari lautan, dan membahayakan satwa liar.




