Menghilang, Babirusa Sulawesi Tak Lagi Ditemukan di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone

Babirusa sulawesi/Sulawesi Babirusa (Babyrousa celebensis) di kawasan Suaka Margasatwa Nantu, Gorontalo. FOTO: VERRIANTO MADJOWA/DARILAUT.ID

Darilaut – Setahun terakhir babirusa Sulawesi tidak lagi dapat ditemukan di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) khususnya di wilayah Gorontalo. Padahal, wilayah taman nasional yang berada di kawasan Wallacea ini salah satu tempat perjumpaan terbaik di alam liar.

Babirusa yang semakin sulit dijumpai tersebut, menimbulkan pertanyaan, mengapa hewan endemik Sulawesi ini menghilang?

Darilaut.id menelusuri pinggiran Taman Bogani, sepanjang tahun 2024 sampai Agustus 2025 tidak ada perjumpaan satwa babirusa.

Tak hanya di taman nasional, habitat babirusa lainnya di Gorontalo juga menghilang. Baca : Babirusa Menghilang di Suaka Margasatwa Nantu Gorontalo

Sepanjang “tahun 2024 sampai sekarang belum ada perjumpaan”, terakhir kali perjumpaan satwa ini di tahun 2023 “tepatnya di bulan Agustus,” kata Kepala Resort Talubolo-Pinogu TNBNW, Yustus Maga, kepada Darilaut.id, Senin (11/8/2025).

Hilangnya babirusa Sulawesi diduga kuat dipengaruhi oleh sebaran virus African Swine Fever (ASF) atau virus babi afrika, kata Yustus.

Selain babirusa, babi hutan juga ditemukan mati di dalam kawasan. Setelah itu, di bulan Oktober 2023 ditemukan 11 ekor babi hutan mati diduga karena infeksi virus ASF, di Desa Ulanta, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango.

“Saat ini kami belum mengetahui penyebab pasti hilangnya babirusa. Kuat dugaan kami akibat serangan virus ASF. ASF ini selain menyerang babi hutan, juga menyerang babirusa,” ujarnya.

Yustus mengatakan untuk mengidentifikasi keberadaan babirusa pihaknya telah memasang 50 kamera trap di tahun 2023 sampai 2024 pada lokasi yang sama.

“Bulan ini, kami juga kembali memasang puluhan kamera trap di lokasi-lokasi yang sebelumnya ada perjumpaan satwa.”

Babirusa termasuk dalam hewan nokturnal atau lebih aktif di malam hari. Babirusa sulawesi mendiami hutan hujan tropis dan dataran rendah. Berbeda dengan babi, babirusa gemar berendam untuk menjaga suhu tubuh dan juga menghindari gangguan serangga, dan lebih sering terlihat berkubang di air yang agak bersih.

Kepala Resort Talubolo-Pinogu Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Yustus Maga. FOTO: VERRIANTO MADJOWA

Sebaran Virus ASF

Artikel yang diterbitkan dalam Jurnal Universitas Gadjah Mada tahun 2021 menjelaskan bahwa penularan virus ASF dapat terjadi melalui penggunaan swill feeding atau pakan sisa, produk hewan ilegal, lalu lintas ternak babi, kendaraan yang terkontaminasi ASF, dan juga pergerakan babi hutan.

Sejumlah penelitian menyebutkan pertama kali virus ASF diidentifikasi di negara Kenya pada tahun 1921.  Kemudian menyebar dan menjadi endemik di wilayah sub Sahara Afrika yang diduga berasal dari babi hutan yang menyebar  ke babi peliharaan.

Di Indonesia, ASF pertama kali diidentifikasi pada tahun 2019 di Sumatera Utara, meluas hingga ke wilayah pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Timur.

Hingga kini, pengelola taman nasional terus berupaya melakukan pelacakan keberadaan satwa dengan memasang puluhan kamera trap di dalam kawasan.

“Saat ini kami belum tau cara memerangi virus ini, yang pasti ketika ada temuan bangkai dikubur atau dibakar agar tidak semakin menyebar,” kata Yustus.

Waspada ASF

Pada 19 September 2023, di Pangi, Suwawa Timur, Quick Respon Waspada ASF Resort Tulpin bersama Resort Bone, berhasil mengevakuasi satu ekor babirusa yang mati diduga terkena virus ASF di dalam Kawasan taman nasional. Tim dibantu aparat Desa Pangi dan warga Desa Pangi.

Sehari sebelumnya, tanggal 18 September 2023, seperti yang diinformasikan melalui Boganinaniwartabone.org, Kepala Desa Pangi mendapatkan laporan dari warga bernama Esmon Mooduto alias Kasmat (41 tahun) tentang adanya bangkai tersebut di lokasi Batu Meja.

Personil Resort Tulpin bersama Personil Resort Bone, dibantu Kepala Dusun Ligi Sudirman Aliwu dan dua warga Pangi, Feky Lukow dan Kasmat –orang pertama yang pertama kali menemukan bangkai — langsung menuju tempat kejadian.

Dari Desa Pangi menuju Lokasi tersebut membutuhkan waktu dengan berjalan kaki selama tiga jam.

Tiba di lokasi, tim terlebih dahulu menyemprotkan cairan Cytrun ke tubuh dan bangkai.  Selanjutnya, tim  mengidentifikasi temuan bangkai tersevut.

Hasil identifikasi, itu bangkai babirusa berjenis kelamin Jantan. Usia babirusa ini diperkirakan di atas lima tahun.

Ini dicirikan taring yang sudah Panjang, serta usia bangkai sekitar tiga hari. Pantauan awal diduga hewan endemik  ini mati akibat serangan virus ASF. Ciri-rinya  dengan ditemukannya bercak-bercak merah di bagian dada.

Kondisi di sekitar ditemukannya bangkai babirusa adalah hutan primer, yang terdapat pohon beringin, damar, nantu dan cempaka. Dijumpai pula jenis palem aren, woka, dan rotan.

Tempat ditemukannya bangkai babirusa ini punggung gunung dengan ketinggian 670 meter dari permukaan laut (mdpl).

Tim mengambil sampel bagian kaki depan. Bangkai babirusa dipotong di bagian atas lutut dan dikemas dalam plastik guna pengecekan laboratorium. Hal ini  untuk memastikan penyebab kematiannya.

Bangkai babirusa selanjutnya dikubur dan disemprot spray cairan citrun.

Taksonomi Babirusa

Babirusa Sulawesi dengan nama ilmiah Babyrousa babyrussa celebensis hidup di daratan Pulau Sulawesi. Hewan endemik sulawesi ini termasuk dalam keluarga mamalia Suidae.

Meskipun namanya mengandung unsur rusa, secara genetik dan taksonomi, babirusa lebih dekat hubungannya dengan babi

Hanya ada tiga jenis babirusa di dunia. Masing-masing babirusa tualagngio atau Babyrousa babyrussa. Spesies ini didapati di Pulau Sulu dan Pulau Buru. Selanjutnya Babirusa Sulawesi atau Babyrousa celebensis, dan babirusa togean atau Babyrousa togeanensis yang ada di Kepulauan Togean.

Dosen di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB Univeristy Dr Abdul Haris Mustari, mengatakan awalnya secara taksonomi hanya dikenal satu spesies babirusa, dengan nama ilmiah Babyrousa babyrussa.

Babirusa ini terdiri dari tiga sub spesies yaitu Babyrousa babyrussa celebensis di Sulawesi daratan, Babyrousa babyrussa togeanensis di  Kepulauan Togean dan Babyrousa babyrussa babyrussa di Pulau Buru dan Kepulaun Sula.

Terdapat pula sub spesies babirusa yang sudah punah, yang hanya ditemukan dalam bentuk fosil yaitu Babyrousa babyrussa bolabatuensis. Babirusa ini fosilnya ditemukan di situs Bolabatue, Sulawesi Selatan. Karena itu, nama spesiesnya bolabatuensis.

Taring Babirusa

Babirusa lebih mudah dikenali dengan taringnya yang panjang dan melengkung ke atas. Tubuhnya kompak berotot dengan kaki pendek dan ekor yang kecil.

Sementara bulunya berwarna coklat tua atau hitam, terkadang ditemukan bintik-bintik putih atau coklat muda. Terdapat perbedaan postur tubuh antara betina dan jantan. Umumnya jantan lebih besar dari betina. Panjang tubuh sekitar 100-180 cm dan berat 40-160 kg.

Umumnya taring jantan dan betina berbeda. Taring jantan babirusa tumbuh menembus moncongnya, sedangkan taring betina tumbuh ke atas dan kedalam tengkorak.

Fakta menarik lainya, taring babi rusa dapat terus tumbuh sepanjang hidupnya, kalau tidak patah dan dibiarkan terus tumbuh tanpa kendali, taring itu bisa terus tumbuh melengkung sampai menusuk tengkoraknya sendiri hingga menyebabkan kematian.

Kawasan Wallacea

Taman Nasional Bogani Nani Wartabone salah satu kawasan konservasi di wilayah Wallacea, sekaligus rumah bagi flora dan fauna endemik Sulawesi.

Selain babirusa, terdapat anoa atau Bubalus spp., musang sulawesi atau Macrogalidia musschenbroekii, monyet hitam sulawesi atau Macaca nigra, monyet hitam gorontalo atau Macaca nigrescens, maleo atau Macrocephalon maleo, tarsius, dan kura-kura hutan sulawesi atau Leucocephalon yuwonoi.

Tercatat  200 jenis burung, 36 jenis mamalia, 23 jenis reptil dan amfibi, dan 298 jenis pohon serta palem di kawasan pelestarian alam tersebut.  (Wa Ode Saritilawa/VM)

Exit mobile version