Tahapan berikutnya adalah penerapan TURF reserve, yang memberikan hak kelola wilayah tangkap kepada kelompok nelayan. Dengan sistem ini, nelayan memiliki kepastian akses sekaligus tanggung jawab menjaga kelestarian wilayah perairan mereka.
“Pendekatan ini menumbuhkan rasa kepemilikan. Nelayan bukan hanya pengguna laut, tapi juga pelindungnya,” kata Glaudy Perdanahardja, Fisheries Conservation Strategic Lead YKAN.
Menurut Muhammad Ilman, Direktur Program Kelautan YKAN, kolaborasi di Laut Sawu membuktikan bahwa sains, kebijakan, dan kearifan lokal dapat berjalan seiring.
“Menjaga laut berarti menjaga kehidupan. Ketika nelayan diberdayakan dan data menjadi dasar kebijakan, kita tidak hanya melindungi terumbu karang, tapi juga masa depan ekonomi pesisir”.
Dengan pendekatan berbasis data dan tanggung jawab bersama, Laut Sawu kini menjadi contoh nyata pengelolaan perikanan berkelanjutan yang tidak hanya menjaga ekosistem, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial-ekonomi masyarakat pesisir Sumba. (Novita J. Kiraman)




