Organisasi Meteorologi Menyoroti Pencairan Salju di Papua

Penyusutan luas dan ketebalan salju abadi di Pegunungan Jayawijaya, Papua, sejak Juni 2010. FOTO-FOTO: KOLEKSI BMKG

Darilaut – Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyoroti pencairan salju dan es di pegunungan Jayawijaya, Papua.

Dalam siaran pers WMO, Kamis (5/6), menyebutkan pencairan es gletser terus berlanjut dengan cepat di di Indonesia, selama tahun 2024.

Estimasi melalui satelit, sejak tahun 2022 total luas es di bagian barat Nugini menurun hingga 30-50% sejak tahun 2022, menurut estimasi satelit.

”Jika laju ini terus berlanjut, total pencairan es diperkirakan akan terjadi pada tahun 2026 atau segera setelahnya,” kata WMO, mengutip laporan yang dirilis bertepatan dengan Platform Global tentang Pengurangan Risiko Bencana 2025 di Jenewa dan menjelang Konferensi Kelautan PBB 2025.

Salju dan es jarang ditemukan di sebagian besar, tetapi tidak semua, Pasifik Barat Daya. Ada gletser di pegunungan Selandia Baru dan di puncak tertinggi di bagian barat pulau Nugini.

Indonesia yang berada di wilayah tropis memiliki keunikan karena terdapat salju abadi di Pegunungan Jayawijaya.

Salju abadi ini di ambang kepunahan. Hal ini menjadi sinyal buruk bagi Indonesia karena tidak lama lagi salju abadi di Pegunungan Jayawijaya akan musnah dalam beberapa tahun mendatang.

Pada 11-15 November 2024, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan monitoring gletser di Puncak Sudirman, Pengunungan Jayawijaya.

Hasilnya, terjadi penurunan signifikan baik luasan maupun ketebalan es ‘salju abadi’ yang ada di Puncak Sudirman.

Indonesia menjadi salah satu lokasi unik di wilayah tropis karena memiliki salju abadi. Salju abadi di Pegunungan Jayawijaya adalah sebuah keajaiban alam yang menarik banyak perhatian dari kalangan ilmuwan, peneliti, serta pecinta alam.

Namun, dalam beberapa dekade terakhir, dilaporkan terjadi penurunan drastis luas area salju abadi tersebut.

Sebelumnya, Koordinator Bidang Standardisasi Instrumen Klimatologi BMKG Donaldi Sukma Permana, mengatakan, luasan tutupan es pada tahun 2024 menyusut 0,11-0,16 kilometer persegi. Sebelumnya, pada 2022, luasan tutupan es 0,23 kilometer persegi.

Setelah  melakukan survei lagi terlihat penurunan tebal es dari tahun ke tahun dan kian menipis.

Exit mobile version