Darilaut – Secara historis, Layanan Administrasi Atmosfer, Geofisika, dan Astronomi Filipina (PAGASA) mencatat La Nina ditandai dengan jumlah kejadian siklon tropis di atas rata-rata menjelang akhir tahun.
Pemantauan dan analisis iklim DOST-PAGASA terbaru menunjukkan pendinginan lebih lanjut suhu permukaan laut (SST) di Pasifik ekuator tengah dan timur (CEEP).
Dalam siaran pers, PAGASA mengatakan sebagian besar model iklim yang dikombinasikan dengan penilaian para ahli menunjukkan peluang 70% terbentuknya La Nina pada musim Oktober-Desember (OND) 2025.
Kemungkinan ini akan berlanjut hingga musim Desember 2025 – Februari 2026 (DJF 2025-26).
Dengan perkembangan ini, “Sistem Peringatan dan Siaga ENSO DOST-PAGASA kini ditingkatkan menjadi Siaga La Nina,” kata PAGASA. Sementara itu, kondisi netral ENSO dingin masih terjadi di Pasifik tropis.
La Nina (fase dingin ENSO) ditandai dengan suhu permukaan laut yang luar biasa dingin daripada rata-rata di Pasifik ekuator tengah dan timur. Ketika kondisi mendukung perkembangan La NiNa dalam dua bulan ke depan dan probabilitasnya 70% atau lebih, Peringatan La Nina akan dikeluarkan.
La Nina, selain ditandai dengan jumlah kejadian siklon tropis di atas rata-rata menjelang akhir tahun, prakiraan terbaru menunjukkan kemungkinan curah hujan di atas normal yang lebih tinggi di sebagian besar wilayah Indonesia.




