Sekitar 73 persen responden melaporkan adanya peningkatan kasus atau komplikasi yang terkait dengan suhu panas selama lima tahun terakhir. Sementara itu, 81 persen merasa khawatir atau sangat khawatir bahwa panas ekstrem akan semakin membahayakan kesehatan ibu, janin, dan bayi baru lahir jika tidak ada tindakan lebih lanjut.
Hampir semua responden pernah menangani ibu hamil atau bayi yang kesehatannya mereka anggap terdampak oleh panas ekstrem.
“Di balik angka-angka tersebut terdapat kisah-kisah manusia: perjalanan seorang calon ibu ke klinik yang terhambat oleh suhu panas berbahaya; seorang bidan yang bekerja di tengah suhu yang tidak aman; serta bayi baru lahir yang membutuhkan perawatan khusus,” kata Stiell.
Meskipun tidak ada seorang pun yang kebal, ia menegaskan bahwa risiko dan dampaknya tidak dirasakan secara merata.
Orang-orang yang bekerja di luar ruangan, tinggal di hunian yang tidak memenuhi standar, menempuh perjalanan jauh ke klinik, atau bergantung pada fasilitas tanpa air, listrik, maupun pendingin ruangan, “tidak dapat dilindungi hanya dengan sekadar imbauan”.
“‘Tetap berada di tempat sejuk’ sama sekali bukan pilihan ketika tidak ada tempat sejuk yang bisa dituju,” ujarnya.
“Persalinan yang aman sudah terlalu sering ditentukan oleh faktor geografis, pendapatan, dan akses terhadap layanan kesehatan. Tanpa adanya tindakan, suhu panas ekstrem akan memperlebar ketidakadilan tersebut.”



