Pekan Depan Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB di Kota Cali Kolombia

Seekor elang terbang melalui ruang hijau di Cali, Kolombia, di mana pejabat kota telah meluncurkan upaya untuk mengembalikan alam. FOTO: JOAQUIN SARMIENTO VIA UNEP

Darilaut – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Keanekaragaman Hayati Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan berlangsung di Kota Cali, Kolombia, pada 21 Oktober – 1 November 2024, pekan depan.

Pertemuan ke-16 Konferensi Para Pihak (COP16) Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD) akan membahas banyak hal termasuk strategi dan rencana aksi keanekaragaman hayati.

Sebagai tuan rumah COP16, Kota Cali yang terletak di wilayah Valle del Cauca memiliki beragam hayati dan menerapkan solusi berbasis alam.

Wilayah ini dilintasi 10 sungai dan Cali menawarkan 12 taman keanekaragaman hayati serta 61 lahan basah, juga rumah bagi hampir 600 spesies burung.

Salah satu inisiatif utama Cali adalah ”Pakta untuk Satwa Liar” yang bertujuan untuk mengekang perdagangan satwa liar ilegal dan mencegah kepemilikan spesies eksotis.

Proyek lain termasuk ”Platform Pemantauan Satwa Liar” sebuah sistem akses terbuka berbasis sains untuk membantu pihak berwenang mengendalikan spesies invasif.

Sebelumnya, Program Lingkungan PBB (UNEP)  tahun 2021 mencatat daerah perkotaan ini memiliki dampak yang tidak proporsional terhadap hilangnya alam dan keanekaragaman hayati, juga perubahan iklim.

Kondisi ini menyumbang setidaknya 60 persen dari emisi karbon dioksida yang menghangatkan planet dan 75 persen penggunaan sumber daya, serta menghasilkan sekitar 60 persen limbah global.

Mengingat dampaknya yang sangat besar, daerah perkotaan adalah kunci untuk memecahkan banyak masalah lingkungan dunia, kata pengamat.

“Kota adalah kontributor dan korban degradasi lingkungan, tetapi mereka juga merupakan pusat inovasi dan kepemimpinan,” kata Atallah dari UNEP.

“Saat kita mendekati COP16, sangat penting bagi kita untuk mengakui peran penting yang dapat dimainkan kota dalam membentuk masa depan yang berkelanjutan untuk semua.”

Bukan hanya di Cali, untuk melawan perubahan iklim, kota-kota di Kolombia berbenah kembali ke alam.

Seperti Barranquilla, kota di Kolombia yang terletak di pantai Laut Karibia. Wilayah ini dikelilingi oleh lahan basah dan hutan tropis.

Meskipun lokasinya indah, namun berbahaya. Ada 1,3 juta jiwa penduduk yang dapat terkena langsung hurricanes (hurikan, badai besar) yang secara rutin menyapu Karibia.

Untuk melindungi diri dari badai itu, Barranquilla telah meluncurkan upaya ambisius untuk memulihkan rawa-rawa, saluran air, dan ruang hijau yang mengelilingi kota.

Para pejabat berharap bahwa pekerjaan, yang sebagian didukung oleh UNEP, akan menciptakan penyangga terhadap angin kencang dan gelombang laut.

Barranquilla adalah salah satu dari beberapa kota Kolombia yang, dalam beberapa tahun terakhir, telah memasukkan kembali alam ke dalam tatanan perkotaan mereka.

Proses ini, yang dikenal sebagai restorasi ekosistem, dipandang sebagai kunci untuk beradaptasi dengan perubahan iklim sekaligus membantu kota menghadapi ancaman lingkungan lainnya seperti hilangnya alam.

“Iklim berubah dan kecuali kota-kota beradaptasi, banyak yang akan menghadapi masa depan yang suram diselingi oleh peristiwa cuaca ekstrem,” kata Mirey Atallah, Kepala Cabang Adaptasi dan Ketahanan UNEP.

“Kabar baiknya adalah bahwa kota memiliki sekutu yang kuat dalam proses adaptasi: alam.”

Exit mobile version