Pembudidaya Rumput Laut di Sabu Raijua NTT Menghadapi Tantangan Perubahan Iklim

Pembudidaya rumput laut Sabu Raijua. FOTO: Nugroho Arif Prabowo/YKAN

Darilaut – Rumput laut sebagai salah satu komoditi yang menjadi masa depan ekonomi pesisir Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Saat ini, pembudidaya rumput laut  menghadapi perubahan iklim. Perubahan iklim membuat pola musim semakin tidak menentu. Untuk itu, Pembudidaya membutuhkan informasi yang diperbarui secara berkala.

Untuk hal tersebut, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) berkomitmen membantu penyebaran informasi, agar pembudidaya bisa menyesuaikan teknik budi daya dengan lebih tepat waktu

Selain itu, ice-ice –penyakit lama rumput laut—menjadi isu paling mengemuka karena kerap merusak tanaman rumput laut.

Untuk pencegahannya, mengutip rekomendasi peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) perlu dilakukan rotasi lokasi budi daya, pembaruan kalender musim, dan pemilihan varietas rumput laut yang sesuai musim.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi NTT, Sulastri Rasyid, menjelaskan pentingnya penyediaan lahan khusus pembibitan.

Untuk menjaga kualitas bibit agar tidak gampang rusak dan terkena penyakit, “kita harus punya kebun bibit,” ujarnya.

Sulastri mengatakan bahwa budi daya rumput laut adalah masa depan ekonomi pesisir Sabu Raijua. Dengan praktik berkelanjutan, bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan generasi mendatang tetap bisa merasakan manfaatnya.

Ke depan, DKP Provinsi NTT akan membuat kebun bibit. Jadi pengadaan tidak lagi langsung dibagikan, tetapi dilakukan pembibitan bersama.

“Kebun bibit ini juga akan disinergikan dengan program strategis pemerintah,” kata Sulastri, dalam kegiatan temu lapang yang digelar YKAN bersama DKP Provinsi NTT dan DKP Kabupaten Sabu Raijua pada 27-28 September 2025.

Kegiatan ini berlangsung di Desa Lobohede dan Desa Deme, Sabu Raijua, dihadiri ratusan pembudidaya rumput laut.

Melalui pertemuan tatap muka ini membuka ruang bagi pembudidaya dari Kecamatan Hawu Mehara, Sabu Timur, dan Sabu Liae untuk menyampaikan pembelajaran, tantangan, dan harapan tentang budi daya rumput laut di wilayah mereka.

Temu Lapang hari pertama berlangsung di Desa Lobohede, Kecamatan Hawu Mehara, pada 27 September 2025, dihadiri perwakilan pembudidaya dari Desa Lobohede dan Lederaga.

Hari berikutnya, kegiatan digelar di Desa Deme, Kecamatan Sabu Liae, yang juga diikuti pembudidaya dari Desa Loborai dan Bodae di Kecamatan Sabu Timur.

Pembudidaya rumput laut Sabu Raijua. FOTO: Nugroho Arif Prabowo/YKAN

Kepala DKP Kabupaten Sabu Raijua, Rachel Billik Tallo, menyampaikan komitmennya untuk memulai program pembibitan tahun depan.

“Kami akan mengidentifikasi lokasi yang cocok untuk kebun bibit, dan berkolaborasi dengan YKAN yang sudah berpengalaman mendampingi kelompok pembudidaya,” ujarnya.

Forum temu lapang ini juga dimanfaatkan untuk mensosialisasikan hasil seminar budi daya rumput laut berkelanjutan yang digelar pada Juni 2025, serta berbagi pembelajaran penerapan Best Management Practices (BMP).

Manajer Program Laut Sawu YKAN Muhammad Zia Ul Haq, mengatakan, BMP merupakan konsep menyeluruh budi daya rumput laut berkelanjutan yang dikembangkan oleh YKAN bersama para pembudidaya, peneliti, serta mitra terkait lainnya.

“Aspek BMP meliputi pemodelan kebun bibit, pemilihan bibit unggul, pemilihan lokasi budi daya ramah lingkungan, pembuatan penjemuran pasca panen sesuai Standar Nasional Indonesia juga membantu menghubungkan produk rumput laut dengan pasar yang peduli dengan lingkungan,” ujarnya.

Elisabeth Radja Nguru, peserta dari Desa Lobohede menjelaskan pengalamannya dalam menerapkan BMP.

“Dengan BMP, kami belajar menjaga lokasi, memilih bibit yang baik, hingga menjemur sesuai standar. Hasilnya amat terasa. Panen lebih cepat, kualitas lebih bagus,” katanya.

Exit mobile version