Darilaut – Budidaya rumput laut berkelanjutan di sejumlah desa di Provinsi Nusa Tenggara Timur bukan hanya mengkolaborasikan aspek sains dan pengalaman empiris di lapangan.
Yayasan Konservasi Alam Nusantara melakukan peningkatan kapasitas bagi lembaga ekonomi masyarakat serta kelompok perempuan. Peningkatan kapasitas pada pembudidaya perempuan menjadi hal penting dikarenakan pada praktik budi daya rumput laut perempuan terlibat dari hulu ke hilir.
Dari mulai proses pembibitan, budi daya, pengolahan, distribusi, hingga pemasaran. Mereka tidak hanya berkontribusi secara teknis tetapi juga dari sisi kreativitas dan kelembagaan.
”Di banyak desa di Provinsi Nusa Tenggara Timur, para pembudidaya rumput laut mayoritas adalah perempuan,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Timur Sulastri Rasyid, dalam diskusi dan seminar dengan tema Sinergi Budi Daya Rumput Laut Berkelanjutan dan Pelestarian Terumbu Karang.
Kegiatan yang berlangsung di Bali, pada tanggal 11-12 Juni 2025 tersebut kerja sama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang dan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Program Koralestari.
Keberlanjutan budi daya rumput laut banyak bergantung pada para perempuan. Untuk itu, ”kami menjalin kolaborasi dengan lembaga-lembaga seperti YKAN untuk mendukung peningkatan kapasitas para perempuan,” kata Sulastri, misalnya dengan mengolah rumput laut menjadi produk makanan dan minuman seperti kue kering atau sirup.




