Darilaut – Hasil penelitian terbaru menemukan pemeriksaan fakta melalui moderasi komunitas yang telah dijalankan platform digital tidak mampu membendung misinformasi atau informasi menyesatkan di media sosial.
Komunitas sangat bergantung hasil dari organisasi pengecekan fakta yang mengutip sumber pemeriksaan fakta hingga lima kali lebih banyak daripada yang dilaporkan sebelumnya.
Langkah platform mengakhiri kemitraan dan pendanaan untuk organisasi pengecekan fakta akan menghambat kemampuan mereka untuk memeriksa fakta dan mengejar jurnalisme investigasi, yang diandalkan oleh penulis catatan komunitas, tulis Nadav Borenstein, bersama Greta Warren, Desmond Elliott dan Isabelle Augenstein dari University of Copenhagen.
Hal ini, pada gilirannya, akan membatasi kemanjuran catatan komunitas, terutama untuk klaim berisiko tinggi yang terkait dengan narasi atau konspirasi yang lebih luas.
Hasil penelitian Borenstein dkk dengan judul “Can Community Notes Replace Professional Fact-Checkers?” telah diterbitkan di Jurnal arXiv, 27 Mei 2025.
Memahami bagaimana informasi yang menyesatkan dan sepenuhnya salah memasuki ekosistem berita tetap menjadi tantangan sulit yang memerlukan pelacakan bagaimana narasi menyebar di ribuan situs web.
Untuk melakukan ini, peneliti memperkenalkan sistem yang menggunakan model bahasa besar berbasis encoder dan deteksi posisi zero-shot untuk mengidentifikasi dan melacak narasi berita di lebih dari 4.000 situs web berita berbahasa Inggris yang tidak dapat diandalkan secara faktual, dengan keandalan campuran, dan dapat diandalkan secara faktual.
Sistem ini dijalankan selama periode 18 bulan dengan melacak penyebaran 146 ribu berita dan menggunakan interferensi berbasis jaringan melalui algoritma NETINF.
Secara umum, misinformasi mengacu pada penyebaran informasi yang tidak akurat secara tidak sengaja, sementara disinformasi tidak hanya tidak akurat tetapi juga dimaksudkan untuk menipu.
Strategi yang digunakan untuk memerangi maraknya misinformasi di media sosial adalah (i) pemeriksaan fakta oleh organisasi profesional dan (ii) moderasi komunitas oleh pengguna platform.
Dimulai dengan Twitter (sekarang X), kemudian Meta, pemeriksa fakta bergeser kepada komunitas yang menandakan adanya pergeseran dari kemitraan dengan organisasi pemeriksa fakta profesional.
Studi yang dilakukan Borenstein dkk menunjukkan moderasi komunitas bergantung dari hasil pemeriksa fakta profesional. Kesimpulan penelitian ini, moderasi komunitas yang berhasil bergantung pada pemeriksaan fakta profesional.
Moderasi komunitas yang efektif bergantung pada pengecekan fakta profesional hingga tingkat yang jauh lebih besar daripada yang dilaporkan sebelumnya.
Catatan komunitas dan pengecekan fakta profesional saling terkait erat—pemeriksa fakta melakukan penelitian mendalam di luar jangkauan pengguna platform amatir, sementara catatan komunitas mempublikasikan pekerjaan mereka.
Hasil penelitian, setidaknya 5% dari semua catatan komunitas berbahasa Inggris berisi tautan eksternal ke pemeriksa fakta profesional. Angka ini bertambah menjadi 7% jika hanya mempertimbangkan catatan yang dinilai sebagai ‘bermanfaat’.
Sebaliknya, hanya 1% catatan yang dinilai ‘tidak bermanfaat’ yang berisi sumber pemeriksa fakta. Angka-angka ini secara signifikan lebih besar daripada yang dilaporkan dalam beberapa penelitian sebelumnya. Hasilnya menyiratkan bahwa catatan yang menyertakan sumber pemeriksa fakta umumnya dianggap lebih bermanfaat.
