Darilaut – Laporan terbaru Program Lingkungan PBB (UNEP) menyoroti bukti dari berbagai belahan dunia penambangan pasir yang tidak berkelanjutan.
Kondisi ini menyebabkan kekurangan pasokan dan mengakibatkan degradasi lingkungan serta meningkatnya penentangan dari masyarakat yang terkena dampak dan mata pencaharian mereka terancam.
Data dari Marine Sand Watch UNEP menunjukkan sekitar setengah dari perusahaan pengerukan beroperasi di dalam Marine Protected Areas (MPA) atau Kawasan Lindung Laut, yang mencakup 15 persen dari volume pasir yang dikeruk.
Memastikan bahwa perlindungan tersebut menghasilkan hasil ekologis yang berarti akan membutuhkan penilaian dampak yang kuat, pengambilan keputusan yang transparan, dan pemantauan jangka panjang yang efektif untuk mencegah MPA menjadi zona penambangan de facto.
Laporan UNEP tentang ”Pasir dan Keberlanjutan: Sumber Daya Penting untuk Alam dan Pembangunan” juga menyoroti ketegangan mendasar: setelah diekstraksi dan diubah menjadi beton, aspal, kaca, dll., pasir secara efektif hilang dari sistem alami (“pasir mati”).
Sebaliknya, pasir di sungai, delta, dan zona pesisir (“pasir hidup”) terus menopang stabilitas lanskap kita dan fungsi ekosistem yang penting: menyaring air, mengatur aliran sungai, melindungi garis pantai dari erosi dan gelombang badai, mencegah salinisasi akuifer pesisir, dan mempertahankan keanekaragaman hayati.
Oleh karena itu, permintaan akan pasir dalam keadaan “mati” dan “hidup”, tetapi penggunaan ini bersaing secara langsung.
Memutuskan apakah akan mengambilnya atau meninggalkannya membutuhkan data, pemetaan, dan pemantauan yang lebih baik untuk mengidentifikasi area dengan nilai ekologis tinggi dan menilai dampak kumulatif. Hal ini juga membutuhkan transparansi yang lebih besar dalam izin ekstraksi, persetujuan proyek, dan aliran pembiayaan.
Mengakui pasir sebagai bagian integral dari alam dan aset penting akan membutuhkan tata kelola terkoordinasi di berbagai sektor dan skala, yang didukung oleh perencanaan jangka panjang untuk menyeimbangkan kebutuhan pasokan dengan perlindungan ekosistem.
Intervensi dini dan terkoordinasi terhadap keberlanjutan pasir tetap dimungkinkan dan hemat biaya.
Sebagai sumber daya yang digunakan secara global, mengatasi keberlanjutan pasir akan membutuhkan koordinasi regional yang lebih baik dan, mungkin, mekanisme tata kelola global.
Laporan ini juga menyerukan kepada negara-negara untuk mengembangkan peta jalan nasional dan sektoral untuk pengelolaan pasir yang bertanggung jawab, dengan memanfaatkan alat-alat UNEP yang sudah ada. Seperti Marine Sand Watch, alat daring Sand And Sustainability, evaluasi metodologi penggunaan pasir nasional.
Laporan mengenai pasir ditulis bersama oleh 27 pakar dari seluruh dunia, diakhiri dengan langkah-langkah kebijakan yang dapat ditindaklanjuti dan alat penilaian untuk mendukung pengelolaan pasir yang lebih berkelanjutan di tingkat lokal, nasional, dan regional.
Baik untuk pembangunan maupun alam, pasir adalah sumber daya penting untuk masa depan, kita perlu memilih dengan bijak dan menggunakannya dengan hati-hati.
Pasir menyediakan habitat penting bagi ikan, penyu, burung, kepiting, dan spesies lainnya yang tak terhitung jumlahnya, mendukung keanekaragaman hayati dan menjaga keseimbangan ekologis — juga kunci bagi pariwisata dan perikanan.
