Peneliti ITS Temukan Bakteri Pengurai Polusi Minyak Bumi di Laut

Anjungan Lepas Pantai YYA-1 area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) di Pantai Utara Jawa Karawang, Jawa Barat, mengalami kebocoran, sejak Jumat (12/7/2019). FOTO: DITJEN HUBLA

Darilaut – Peneliti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menemukan cara mengatasi pencemaran karena kegiatan pengeboran minyak bumi dan tumpahan saat pengiriman dengan kapal.

Bakteri pengurai polusi minyak bumi ini Bacillus subtilis dan Pseudomonas putida. Bakteri ini memiliki kemampuan menguraikan polutan dengan sangat baik.

Tim peneliti ITS tersebut masing-masing Harmin Sulistyaning Titah ST MT PhD (dosen Departemen Teknik Lingkungan), Herman Pratikno ST MT PhD (dosen Departemen Teknik Kelautan), Ipung Fitri Purwanti ST MT PhD (dosen Departemen Teknik Lingkungan) dan Widhowati Kesoema Wardhani ST (mahasiswa PMDSU Departemen Teknik Lingkungan).

Mengutip Its.ac.id/news, salah satu manfaat mikroorganisme ialah mampu mengembalikan kondisi ekosistem tercemar sehingga kembali seperti sediakala.

Biodegradasi merupakan metode pemulihan pencemaran dengan memanfaaatkan mikroorganisme tertentu dengan menguraikan senyawa kimia pencemar. Biodegradasi ini juga mampu menjadi solusi ramah lingkungan pada lingkungan tercemar.

Dalam penelitian tersebut, tim peneliti ini memanfaatkan biodegradasi untuk mengatasi masalah pencemaran minyak bumi yang terjadi di laut. Pencemaran minyak bumi bisa disebabkan oleh kebocoran saat aktivitas pengeboran minyak bumi dan tumpahan saat melakukan pengiriman menggunakan kapal.

Harmin mengatakan untuk mengukur seberapa besar tingkat tercemarnya, ditentukan dengan nilai Total Petroleum Hydrocarbon (TPH).

Sampel air laut tercemar yang diambil dari perairan Madura didapatkan nilai TPH sebesar 2.600-3.000 mg/L, sementara nilai TPH untuk lingkungan yang baik adalah 1.000 mg/L atau di bawah 1 persen.

“Berarti air laut di kawasan tersebut sudah sangat tercemar,” kata Harmin seperti dikutip dari Its.ac.id.

Biodegradasi pada penelitian dengan memanfaatkan bakteri Bacillus subtilis dan Pseudomonas putida.

Metode Bertahap

Menurut Harmin penelitian ini menggunakan metode bertahap. Metode ini kombinasi penambahan dari dua bakteri.

Sebagai contoh, kombinasi tersebut menggunakan bakteri Pseudomonas putida untuk bekerja menguraikan sampel terlebih dahulu, kemudian ditambahkan dengan bakteri Bacillus subtilis.

Tujuan menggunakan metode ini ialah untuk mengetahui tingkat efektivitas bakteri dalam menguraikan senyawa kimia polutan dengan kadar yang tinggi.

Terbukti dalam pengujian laboratorium selama 35 hari, sampel polutan sudah terurai sebanyak 66 persen.

“Kombinasi tersebut memiliki efektivitas lebih tinggi dalam mengurai bakteri,” katanya.

Selain itu, Harmin menjelaskan bahwa selain faktor jenis bakteri yang efektif dimanfaatkan untuk menguraikan polutan, juga terdapat tambahan nutrisi sebagai makanan tambahan untuk bakteri.

Nutrisi tersebut didapatkan dari pupuk yang memiliki kandungan unsur kimia nitrogen, fosfor, dan kalium. Fungsi nutrisi ini untuk mempercepat proses penguraian polutan dalam sampel tersebut.

Keunggulan biodegradasi bakteri Bacillus subtilis dan Pseudomonas putida masing-masing memiliki kemampuan menguraikan polutan dengan sangat baik, kemudian dikombinasikan menjadi satu.

Namun, kekurangan dalam penelitian ini terdapat pada durasi waktu biodegradasi yang sangat lama.

“Apabila ingin benar-benar bebas polutan, dibutuhkan waktu tiga bulan,” katanya.

Harmin berharap, dalam waktu dekat penelitian ini dapat diterapkan dalam skala nyata bukan hanya dalam skala laboratorium.

Meskipun begitu, harus tetap memerhatikan banyak faktor seperti luas wilayah tercemar, gelombang air laut, iklim, dan banyaknya bakteri yang harus dipersiapkan.

Exit mobile version