“Nasib residu pestisida yang jatuh ke tanah selanjutnya akan terbawa aliran air dan masuk ke saluran air atau Sungai,” ujar Asep.
Untuk itu, diperlukan penanganan residu pestisida dengan tiga fase, yaitu pencegahan di inlet dengan Filter Inlet Outlet (FIO), pengendalian di lahan dengan urea biochar atau urea arang aktif dan pencegahan di outlet dengan FIO.
Bahan FIO, biochar dan arang aktif berbasiskan pemanfaatan limbah pertanian sehingga teknologi tersebut ramah lingkungan.
Kepala Divisi Produksi Tanaman dari Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Anas D. Susila, mengatakan sebagian besar petani Indonesia masih berada pada fase Revolusi Pertanian 2.0 dan mulai menginjak di fase Revolusi Pertanian 3.0.
Namun, menurut Prof. Anas, belum ada pedoman bagaimana implementasi Pertanian Presisi yang tepat di level petani.
Teknologi Pertanian presisi yang didukung teknologi smart farming perlu segera diimplementasikan pada petani skala kecil agar manfaatnya dapat langsung dirasakan untuk peningkatan produksi dan menekan biaya produksi.
Selain itu, peduli terhadap lingkungan pertanian khususnya sektor hortikultura, di mana area pengembangannya dapat dilakukan dengan aplikasi teknologi Fertigasi (pemupukan bersamaan dengan irigasi) di lahan-lahan kering sehingga dapat meningkatkan efisiensi irigasi dan pemupukan.




