Dalam perspektif fiskal, Fathurrahman, Wakil Rektor III dan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unizar, menyoroti pentingnya inovasi fiskal daerah. Menurutnya, pemerintah daerah perlu memperluas basis pendapatan melalui optimalisasi retribusi wisata, skema pembiayaan kreatif, dan pengembangan sektor-sektor pendukung pariwisata. Strategi fiskal tersebut, kata Fathurrahman, akan menjadi fondasi utama untuk menciptakan daerah yang berdaya saing dan mandiri secara ekonomi.
Dari sisi kebijakan nasional, I Gusti Ayu Dewi Hendriyani, Asisten Deputi Manajemen Strategis Kementerian Pariwisata RI, menegaskan perlunya penyelarasan antara kebijakan pusat dan daerah. Ia menyoroti pentingnya sinkronisasi antara RPJMN dengan rencana pembangunan pariwisata daerah agar tidak terjadi tumpang tindih program. Menurutnya, keberhasilan pembangunan pariwisata memerlukan kolaborasi menyeluruh yang melibatkan pemerintah pusat, pemda, pelaku usaha, dan masyarakat.
“Pariwisata akan kuat jika dikelola secara terarah, berbasis data, dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.”
Sementara itu, Sekda Lombok Tengah, Lalu Firman Wijaya, menegaskan bahwa daerahnya memiliki potensi wisata luar biasa, mulai dari kawasan Gunung Rinjani hingga destinasi pantai selatan yang dikenal secara global. Pemerintah daerah telah menerapkan tiga strategi utama yaitu: memperkuat tata kelola berbasis data dan kajian ilmiah, mengembangkan ekonomi kreatif agar perputaran ekonomi terjadi di dalam daerah, serta memperbaiki infrastruktur destinasi agar memberikan kenyamanan bagi wisatawan.




