Kepala Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman BRIN, Elisabeth Farah Novita Coutrier, menjelaskan upaya pencegahan dan pengendalian yang berkelanjutan dan pentingnya keterlibatan aktif masyarakat dalam program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) serta edukasi berkelanjutan.
“Keberhasilan pengendalian penyakit tular vektor sangat bergantung pada sinergi lintas sektor dan kesadaran masyarakat,” ujarnya.
Menurut Farah, perubahan iklim telah menggeser pola penyebaran vektor ke wilayah-wilayah yang sebelumnya tidak terdampak.
Mobilitas penduduk, perubahan lingkungan akibat urbanisasi, serta pemanasan global memperluas distribusi nyamuk pembawa penyakit. Kondisi ini menuntut akses informasi terkini serta strategi pengendalian yang adaptif dan partisipatif, kata Farah.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Triwibowo Ambar Garjito, mengatakan, arbovirus seperti dengue, chikungunya, zika, dan yellow fever menjadi perhatian global.
WHO bahkan telah menerbitkan Global Arbovirus Initiative yang menyebutkan potensi besar penyakit ini menjadi pandemi global berikutnya.
“Nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus menjadi vektor utama. Keberadaan dan penyebarannya yang meluas menjadikan arbovirus sebagai ancaman serius,” kata Triwibowo.




