Darilaut – Perempuan memiliki peran krusial dalam melawan rantai kemiskinan dengan kegigihan mereka. Di Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah, peran perempuan tidak hanya terbatas pada pengelolaan keuangan dan urusan rumah tangga, tetapi juga meluas hingga mengarungi lautan untuk mencari nafkah.
Nursia Nuntung, nelayan perempuan Desa Kadoda yang mencari gurita di perairan Togean adalah potret perjuangan hidup yang mendobrak stigma gender. Dengan alat tangkap tradisional, Nursia menghadapi risiko cuaca buruk dan ketidakpastian pendapatan.
Pada usia yang tidak lagi muda, Nursia masih menantang ombak Teluk Tomini. Perempuan 40 tahun itu memiliki empat orang anak; tiga di antaranya perempuan dan sudah menikah, satu anak laki-laki yang masih bersekolah, dan suami yang sudah sakit-sakitan.
Secara administratif, Desa Kadoda, yang terletak di Kecamatan Talatako, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, berada di jantung Taman Nasional Kepulauan Togean. Hampir seluruh penduduk merupakan nelayan ikan dan gurita. Dalam berburu gurita, terdapat perbedaan yang cukup mencolok antara nelayan perempuan dan nelayan.

Nursia berburu gurita dengan berjalan di atas karang dan kerap menyelam tanpa alat bantu pernapasan, hanya menggunakan kacamata renang atau diving mask sederhana. Aktivitas ini telah ia jalani puluhan tahun, hampir setiap hari, sejak pagi hingga matahari terbenam, selama cuaca memungkinkan.




