BRIN memperluas pemodelan transpor partikel untuk memetakan kemungkinan pola hanyutan tujuh korban kapal Arupadhatu 1, memperpanjang simulasi hingga 5 Oktober 2026 dengan cakupan wilayah laut yang lebih luas, mulai 94° hingga 108° Bujur Timur dan 10° Lintang Selatan hingga khatulistiwa.
Perluasan wilayah pemodelan dilakukan karena simulasi sebelumnya hanya menggunakan data arus hingga sekitar 100° Bujur Timur. Hasil proyeksi menunjukkan sebagian lintasan partikel berpotensi bergerak melewati batas tersebut dalam waktu dua minggu.
Ketua tim Peneliti PRIMA BRIN, Prof. Widodo Setiyo Pranowo, mengunduh kembali data dengan cakupan lebih luas dan menjalankan pemodelan ulang.
Prof. Widodo menjelaskan bahwa pergerakan partikel ke arah barat berkaitan dengan pola arus permukaan pada September yang bergerak ke barat–barat laut di perairan barat daya Sumatra, serta pengaruh angin tenggara musim timur.
Setelah melewati Enggano, lintasan partikel memiliki ruang gerak yang lebih luas menuju Samudra Hindia. Kondisi tersebut membuat wilayah dengan probabilitas 90 persen mencapai sekitar 31 ribu kilometer persegi.
“Peta hasil simulasi pemodelan adalah alat bantu penetapan prioritas, bukan penunjuk lokasi orang per orang,” ujar Prof. Widodo seperti dikutip dari Brin.go.id.



